close

Sejarah

Hijrah: Langkah Awal Sebuah Peradaban

Foto: Pixabay.com

Saat itu musim panas tahun 622 Masehi, setelah dua baiat yang beruntun di Aqabah, Rasulullah memerintahkan orang-orang beriman untuk berhijrah ke Yastrib. Tercatat dalam sejarah yang pertama kali berhijrah (ke Yastrib) adalah Abu Salamah bin Abdul Asad radhiallahu ‘anhu yang kemudian disusul oleh kaum muslimin secara runtut, rombongan demi rombongan. Hingga tidaklah tersisa di Makkah, melainkan keluarga Rasulullah dan keluarga Abu Bakar.

Keadaan Makkah amat mencekam saat itu, para pemuka Quraisy sedang menjalankan suatu musyawarah jahat di Daarun Nadwah tentang bagaimana cara membunuh Muhammad yang baik dan benar. Mereka amat khawatir dengan komunitas Islam baru yang sedang terbentuk di Yastrib. Sebagaimana hal-hal buruk lainnya, Iblis selalu tak lupa ambil bagian dengan mengiakan sebuah saran dari—meminjam istilah Syaikh Shafiyurrahman—penduduk Makkah yang paling jahat (Abu Jahal) yang diterima oleh seluruh yang hadir.

Akhirnya, pasukan khusus bersenjata lengkap yang terdiri atas anak muda terbaik masing-masing kabilah dipersiapkan, bukan untuk berperang, bukan untuk patroli keamanan, bukan pula untuk parade militer, melainkan dipersiapkan untuk membunuh, membunuh manusia terbaik yang pernah ada, mereka hendak membunuh Nabi Muhammad kita!

Beberapa jam sebelum penyergapan, Nabi mendapat wahyu dari Jibril bahwa tiba saatnya untuk hijrah. Beliau dengan melangkahkan dua kaki mulianya segera beranjak menemui Abu Bakar untuk menyusun rencana keberangkatan, sementara sepupu beliau Ali diminta untuk tetap di Makkah, untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau oleh orang-orang Makkah.

Sebelumnya, Abu Bakar telah menyewa seorang yang terampil sebagai penunjuk jalan, ia adalah Abdullah bin Uraiqith dan masih menganut agama kaumnya. Mereka menitipkan tunggangannya pada Abdullah dan sepakat untuk bertemu di Gua Tsur tiga hari kemudian.

Sementara itu, pasukan sudah dalam posisi penyergapan memperhatikan bahwa Muhammad ada di pembaringan, dengan selimut hijau yang dibawa dari Hadramaut. Suasana menjadi kacau ketika waktu fajar mereka menyergap dan mengetahui bahwa ternyata itu adalah Ali, bukan Muhammad.

Adapun Nabi dan Abu Bakar sudah dalam perjalanan hijrah ke Yastrib, namun dengan rute yang berbeda, melalui rute selatan ke arah Yaman. Setelah berjalan selama lebih kurang lima mil, Nabi dan Abu Bakar tiba di puncak sebuah gunung dengan gua di sisinya, gua itu masyhur dengan nama Gua Tsur.

Perjalanan hijrah ini, disebut oleh Husein Haikal dalam bukunya Hayat Muhammad sebagai kisah paling gemilang sekaligus mengagumkan yang dikenal manusia berkaitan dengan pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan, dan keimanan.

Nabi dan Abu Bakar memutuskan untuk tinggal di Gua Tsur selama tiga malam. Asma’ bertugas untuk membawa perbekalan ke tempat Nabi dan Abu Bakar tinggal, sedangkan Abdullah bertugas menyelidiki informasi dan menyampaikan berita kepada mereka hingga Nabi dan Abu Bakar berhati-hati. Keduanya adalah putri dan putra Abu Bakar. Sungguh Allah telah memuliakan keluarga Abu bakar dengan kebaikan.

Mereka yang Berperan di Balik Hijrah

Ada empat orang yang memiliki peran penting pada saat hijrah. Pertama, Asma’, putri Ash-Shiddiq, saat itu berusia 27 tahun. Tugasnya sangat penting, yaitu mengantarkan bekal makanan untuk Nabi dan Abu Bakar selama di Gua Tsur. Untuk itu, ia harus berjalan sejauh kurang lebih delapan kilometer, lalu mendaki bukit batu hampir 1500 mpdl yang terjal dan gersang.

Untuk peran yang maha penting tersebut, Allah memilih Asma’, seorang wanita, bukan pria. Islam dengan segala kesempurnaannya telah sejak dahulu meletakkan perempuan di lini-lini penting kehidupan, tak kalah penting dari peran lelaki. Pada saat bersamaan, justru Barat sedang tenggelam dalam kebodohan.

Lalu, seorang nonmuslim, penyembah Latta, yang bahkan saat ditawari untuk menunjukkan arah oleh Abu Bakar, ia bersumpah atas nama Latta tak akan berkhianat, namanya Abdullah bin Uraiqith. Ini adalah potret toleransi pada wajah Islam Arab yang masih sangat muda pada saat itu, yang konon katanya oleh para ahli itu, membawa ciri terorisme dengan segala pernak-perniknya. Adapun gereja, dengan segala kekuasaannya pawa waktu itu, menekan banyak pihak atas nama Tuhan.

Selain itu, ada Abdullah bin Abu Bakar, yang bertugas menyampaikan informasi yang beredar di Makkah kepada Nabi dan Abu Bakar. Ia masih sangat belia saat itu, usianya sekitar dua belas atau tiga belas tahun, tetapi ia sudah bertugas sebagai telik sandi Rasulullah. Sungguh kebaikan terdapat pada masa muda.

Terakhir, Amr bin Fuhaira, ia adalah seorang budak Abu Bakar yang kemudian dibebaskan. Ia bertugas mengembalakan ternak Abu Bakar untuk menghapus jejak perjalanan mereka. Sungguh tugas yang tak kalah penting, dan hal tersebut dilakukan oleh seorang budak.

Bertolak ke Yastrib

Setelah tiga hari yang menegangkan, Abdullah bin Uraiqith datang membawa tunggangan mereka. Hari itu juga mereka bertolak ke Yastrib. Ibnu Hisyam dalam sirahnya, mengutip Ibnu Ishaq, menyebutkan bahwa perjalanan tersebut melalui jalur yang tidak lazim. Nabi melewati wilayah Asfan, Amaj, Qudaid, Kharar, Thaniyyat Murrah, liqf atau Laft,  Madlajah Liqf, Mudlijah Mahaj, Marjih Mahaj, Marjih dzi Ghuddwain, Dzi Kaysr, Jadajid, Ajrad, Dzu Salam, Madlijah Ti’hin, Abayid, Fajjah, Arj, Thaniyyat ‘Air dari arah kanan Rakubah, Ri’m hingga tiba di Quba.

Sampai di Quba

Hari itu, Senin, 8 Rabiulawal tahun 14 kenabian atau September 622 Masehi, Nabi tiba di Quba dan menetap selama empat hari, beliau menetap di rumah Kultsum bin al-Hadm. Di Quba, beliau membangun sebuah masjid dan salat di dalamnya. Inilah masjid pertama setelah nubuat yang didirikan atas dasar takwa.

Memasuki Yastrib

Siang itu, tepatnya setelah salat Jumat, Nabi memasuki Yastrib. Sejak hari itu, Yastrib diganti namanya menjadi Madinatur Rasul yang kemudian disingkat dengan Madinah. Hari itu adalah hari yang sangat monumental, kita bisa membayangkan betapa gagap gempitanya suasana hari itu, rumah-rumah dan jalan-jalan riuh dengan pekikan tahmid dan takdis.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyebutkan pada kita bahwa pada hari Nabi memasuki Madinah, segala sesuatunya bercahaya. Al-Bara’ bin Aazib juga menuturkan bahwa beliau tidak pernah melihat penduduk Madinah gembira sebagaimana gembiranya mereka dengan kedatangan Nabi, tidak sebelumnya dan sesudahnya.

Kehidupan di Madinah

Kehidupan di Madinah sangat heterogen, berbeda dengan Makkah yang cenderung homogen. Setidaknya saat itu ada tiga komunitas besar yang hidup di Madinah. Pertama, kabilah Aus dan Khazraj, keduanya terlibat perang saudara dalam waktu yang lama hingga kemudian Allah damaikan mereka melalui Nabi-Nya. Kedua, kaum Yahudi, setidaknya ada tiga kabilah besar mereka, yaitu Nadhir, Qainuqa, dan Quraizhah, mereka menguasai perekonomian Madinah saat itu. Ketiga, Nasrani, mereka hidup di pinggir-pinggir Kota Madinah.

Sebagaimana umumnya orang, para sahabat juga mengalami homesick saat itu, mereka terserang demam hingga kemudian Nabi memohon agar Allah memberkahi Madinah dan memberikan rasa cinta kepada Madinah di hati-hati mereka sebagaimana cinta mereka kepada Makkah.

Di antara hal pertama yang Nabi lakukan ketika tiba di Madinah adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Ansharin. Dengan ini, mereka telah menjadi satu identitas, tidak lagi terbelah, tidak ada lagi syiar-syiar jahiliah di antara mereka, mereka laksana satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.

Kemudian, Nabi membangun masjid lengkap dengan institusi pendidikan di salah satu sisinya, Shuffah namanya, bangunannya sangat sederhana, tetapi diisi oleh orang-orang dengan jiwa yang kokoh. Shuffah adalah potret paling sempurna dari pendidikan, tujuannya untuk menghidup sempurnakan manusia berhasil.

Alumni-alumninya tumbuh menjadi orang-orang yang berkarakter mulia dan bertakwa, yang mana suatu saat nanti, benteng-benteng paling kokoh dari Romawi dan Persia takluk di bawah mereka. Adapun hari-hari ini, institusi dengan bangunan megah di mana-mana, tetapi diisi oleh jiwa-jiwa yang rapuh. Masjid ini kelak menjelma sebagai pusat peradaban dan pemerintahan Islam.

Selanjutnya, yang Nabi lakukan adalah membentuk konstitusi negara pertama dalam sejarah manusia. Itulah yang dikenal dengan nama Piagam Madinah. Piagam Madinah ini mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat Madinah dan menjamin kebebasan beribadah bagi setiap pemeluk agama.

Tiga hal yang Nabi lakukan itu kemudian menjadi dasar utama yang membangun peradaban gemilang Islam ke depannya. Dari sebuah kota kecil di Jazirah Arab, Islam kemudian pernah menguasai hampir dua pertiga dunia.

Penulis: Misbahul
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Tags : hijrahislamMuhammadperadabanRasulullah

The author Redaksi Sahih