close

OpiniSains

Remangnya Teori Bumi Datar dalam Sudut Pandang Ilmu Klimatologi

Foto: Pixabay.com

Teori bumi datar adalah sebuah kepercayaan kuno yang dianut oleh manusia pada zaman prasejarah sampai dengan abad ke-4 SM (Sebelum Masehi). Kepercayaan ini tetap lestari sampai pertama kali dicetuskannya konsep bumi bulat oleh Aristoteles sekitar tahun 330 SM. Hal yang memang patut untuk dimaklumi, mengingat pada masa tersebut perkembangan teknologi masih belum secanggih pada abad ke-19 Masehi dan abad ke-20 Masehi.

Keterbatasan teknologi yang dialami juga turut membatasi wawasan dan pengetahuan manusia ketika itu. Apa yang mereka pahami hanya terbatas pada apa yang dapat mereka amati dengan mata, didengar oleh telinga, dan dirasakan oleh indra perasa.

Pada akhirnya, tidak sedikit ilmu pengetahuan ketika itu yang didakwa sebagai sebuah kebenaran hanya berdasarkan hipotesis tanpa melalui proses pembuktian empiris. Banyak pula dari manusia kala itu yang cukup puas hanya dengan menjadikannya sebuah keyakinan, seperti keyakinan akan bentuk bumi yang datar.

Tidak cukup sampai di sana. Saat memasuki abad ke-18 Masehi, ketika ilmu pengetahuan sudah jauh berkembang, ada seorang penemu asal Inggris yang bernama Samuel Rowbotham (1816–1884) yang mengajukan hipotesis dan kembali memopulerkan keyakinan bumi datar.

Ia berpendapat bahwa bumi sebenarnya berbentuk cakram datar yang berpusat di Kutub Utara yang dikelilingi oleh dinding es Antartika sebagai pinggiran bumi. Pandangan ini ia tuliskan di dalam sebuah buku yang berjudul Earth Not a Globe setebal 430 halaman, sebagai pengembangan pemikiran dari hasil penafsirannya terhadap beberapa ayat di dalam kitab suci. Hipotesis ini tentu bertentangan dengan konsep bumi bulat yang telah diakui kebenarannya, disepakati, telah dibuktikan, dan telah jauh berkembang pada masanya.

Bak gayung bersambut, pada tahun 1956, kepercayaan bumi datar ini kembali digaungkan oleh seorang Inggris yang bernama Samuel Shenton. Untuk menunjukkan keseriusannya, ia sampai mendirikan organisasi yang dinamakan Flat Earth Society (juga dikenal sebagai International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society).

Organisasi ini kemudian dipimpin oleh seorang pria asal Lancaster, California yang bernama Charles K. Johnson, yang menjadikan rumahnya sebagai basis organisasi. Walaupun kiprah dari organisasi ini timbul tenggelam dan sempat vakum setelah wafatnya Johnson, baru-baru ini organisasi ini dibangkitkan kembali oleh seorang presiden baru yang bernama Daniel Shenton. Demikianlah kisah singkatnya sehingga keyakinan atau teori bumi datar ini tersebar secara luas hingga ke berbagai negara, hingga dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Lalu, apa tanggapan para ahli dari berbagai disiplin ilmu pada masa kini terkait dengan teori bumi datar? Pada kenyataannya, banyak ahli yang telah mengkritisinya. Mereka berpendapat bahwa teori bumi datar ini dikemukakan hanya berdasarkan asumsi semata, tidak menempuh metode penelitian ilmiah yang ada, sama sekali tidak bisa dibuktikan dengan angka dan data sehingga masih terlalu prematur untuk dapat disebut sebagai sebuah fakta. Tidak terkecuali jika teori ini ditinjau dari perspektif ilmu klimatologi.

Teori Bumi Datar Ditinjau Berdasarkan Perspektif Klimatologi

Pergantian musim yang terjadi dari waktu ke waktu di berbagai belahan bumi merupakan keniscayaan dan fakta yang benar-benar terjadi. Hal ini dapat dilihat, dirasakan, dan dicatat sebagai fakta yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun dan di mana pun. Menyusul pula fenomena-fenomena alam yang menjadi ciri khas dari tiap-tiap musim yang juga ikut menguatkan karakter dari suatu musim di suatu wilayah.

Hanya saja, ada sebagian aspek dari fenomena alam tersebut yang justru menjadi tampak mustahil dan sangat sulit untuk dijelaskan menurut asumsi teori bumi datar, sekalipun kenyataannya itu adalah fakta. Contohnya adalah perbedaan proporsi waktu siang dan malam di dua belahan bumi yang berbeda; BBU (Belahan Bumi Utara) dan BBS (Belahan Bumi Selatan) saat keduanya mengalami musim dingin dan musim panas.

Misalnya saja, Kota Tromsø yang berada di lingkar Kutub Utara. Kota ini merupakan salah satu kota yang berlokasi di Distrik Nord-Troms, Provinsi Troms, Norwegia. Tepatnya di koordinat 69°39’04” LU, 18°57’17” BT. Pada setiap musim panas, yaitu pada bulan Mei hingga bulan Juli pada setiap tahunnya, kota ini mengalami fenomena yang dinamakan midnight sun, yaitu fenomena siang sepanjang hari, dengan matahari tidak pernah tenggelam dan tetap terlihat selama 24 jam penuh di kota ini.

Karena kota ini terletak di BBU, fenomena midnight sun dapat dijelaskan dengan baik oleh konsep bumi bulat maupun teori bumi datar. Jika dijelaskan menurut konsep bumi bulat, fenomena ini disebabkan oleh kemiringan bumi dari porosnya sebesar 23,5°. Kemiringan bumi dari porosnya ini membuat matahari lebih condong ke utara dan membuat Kutub Utara terekspose menghadap matahari.

Karena itu, pada bulan Mei hingga bulan Juli (puncaknya 21 Juni), untuk wilayah BBU yang berlokasi di atas lintang 66,5° LU, matahari terlihat tidak pernah tenggelam. Teori bumi datar pun dapat menjelaskan fenomena ini dengan baik, jari-jari peredaran matahari akan menyempit ke pusat bumi (Kutub Utara) sehingga wilayah lingkar Kutub Utara akan selalu mendapat penyinaran matahari dan mengalami midnight sun.

Namun, ini tidak berlaku jika kejadian midnight sun (atau durasi waktu siang yang panjang) berlangsung di BBS. Teori bumi datar akan mulai terlihat rancu di sini karena asumsinya hanya nampak logis bagi midnight sun yang terjadi BBU. Kita ambil contoh Kota Ushuaia yang merupakan ibu kota dari Provinsi Tierra del Fuego, Argentina. Tepatnya terletak di koordinat 54°48’04” LS, 68°18’12” BB. Kota ini dianggap sebagai kota berpenduduk tetap yang terletak paling ujung selatan di muka bumi.

Pada setiap musim panas, yaitu pada bulan November hingga bulan Januari pada setiap tahunnya, kota ini mengalami waktu siang yang sangat panjang. Dilansir dari website timeanddate.com, pada tahun ini, Kota Ushuaia disimulasikan akan mengalami waktu siang terpanjang yang akan bertepatan pada tanggal 21 Desember 2021, yaitu selama 17 jam 20 menit. Disimulasikan matahari akan terbit pada pukul 04:51 dan baru akan tenggelam pada pukul 22:11 waktu setempat, sedangkan durasi waktu malamnya hanya 6 jam 40 menit.

Fenomena ini masih dapat dijelaskan dengan baik menurut asumsi bumi bulat. Dimana fenomena ini disebabkan oleh kemiringan bumi dari porosnya sebesar 23,5°. Kemiringan bumi dari porosnya ini membuat matahari lebih condong ke selatan dan membuat Kutub Selatan terekspose menghadap matahari. Sebab itu, pada bulan November hingga bulan Januari (puncaknya 21 Desember), untuk wilayah BBS yang berlokasi di atas lintang 66,5° LS, matahari terlihat tidak pernah tenggelam.

Namun, Kota Ushuaia tidak termasuk di dalamnya. Kota ini masih mengalami fase malam hari yang singkat karena letak lintangnya 54°48’04” LS yang masih di bawah lintang 66,5° LS. Karena itu, kota ini belum “memenuhi syarat” untuk mengalami midnight sun di puncak musim panasnya.

Bahkan, simulasi terbit dan tenggelamnya matahari yang selama ini digunakan sebagai petunjuk waktu “Shalat Sepanjang Masa” untuk berbagai negara di dunia, merupakan produk dari asumsi bumi bulat. Keakuratannya selama ini juga telah teruji, terbukti, dan terkonfirmasi dengan posisi edar matahari yang sebenarnya jika diamati dari berbagai tempat di muka bumi.

Sebaliknya, jika menggunakan asumsi teori bumi datar, fenomena ini sangat sulit dijelaskan. Karena menurut teori mereka, matahari harus terus berputar-putar di atas bumi (yang berbentuk cakram) dalam kecepatan yang konstan sehingga sangat mustahil bagi matahari untuk “berdiam diri” menyinari Kota Ushuaia selama 17 jam 20 menit penuh.

Sementara itu, ketika Ushuaia memasuki malam hari, matahari harus berputar dengan sangat cepat untuk menyelesaikan sisa lintasannya mengelilingi bumi sehingga hanya membutuhkan waktu 6 jam 40 menit sampai kembali menyinari Kota Ushuaia keesokan harinya. Ini sangat tidak masuk akal mengingat masih banyak kota lain di BBS yang faktanya juga mengalami waktu siang yang panjang pada puncak musim kemarau.

Misalnya saja, Cape Town, Afrika Selatan (34°00’58” LS, 18°31’38” BT) dan Invercargill, Selandia Baru (46°24’50” LS, 168°21’48” BT). Pada tanggal 21 Desember 2021, kedua kota tersebut secara berturut-turut diprediksi akan mengalami durasi siang selama 14 jam 25 menit dan 15 jam 49 menit. Lantas bagaimana cara matahari membagi “waktu kunjungannya” ke kota-kota tersebut jika masing-masingnya membutuhkan penyinaran matahari lebih dari 12 jam?

Belum lagi fenomena midnight sun di Kutub Selatan yang merupakan fakta dan benar-benar terjadi. Fenomena ini 100% tidak bisa dijelaskan berdasarkan asumsi bumi datar. Menurut peta bumi datar, pinggiran bumi seluruhnya adalah “Kutub Selatan”. Oleh karena itu, sangat sulit dijelaskan bagaimana mungkin wilayah Kutub Selatan (pinggiran bumi) itu seluruhnya dapat disinari matahari secara serentak selama 24 jam penuh. Sementara itu, menurut teori bumi datar matahari harus tetap berputar-putar di atas piringan bumi dan menyinari setiap bagian bumi secara bergantian.

Pada akhirnya, komunitas bumi datar hanya mampu memberikan asumsi, alasan, dan dugaan tak berdasar untuk membuat fenomena ini tampak masuk akal menurut teori mereka. Bahwasanya hal tersebut dapat terjadi karena sinar matahari—yang karena satu dan lain hal—telah mengalami refleksi oleh dome atau kubah langit sehingga pantulan sinarnya menyebar dan membentuk pola sedemikian rupa yang dapat menyinari dinding Kutub Selatan secara serentak. Namun, lagi-lagi mereka tidak dapat menyajikan data dan hasil penelitian yang dapat membuktikan bahwa asumsi mereka itu memang benar adanya.

Pada akhirnya, sampai saat ini teori bumi datar masih dianggap sebagai pseudosains. Sebuah ilmu yang bersifat dogmatis sebagai warisan zaman prasejarah yang di dalamnya masih terdapat banyak asumsi yang sangat tidak bersesuaian dengan logika dan fakta yang terjadi di lapangan. Setidaknya jika ia ditinjau dari perspektif ilmu klimatologi.

Judul Asli: “Remang-Remang” Teori Bumi Datar dalam Perspektif Klimatologi

Penulis: Anas Baihaqi (Analis Iklim BMKG Stasiun Klimatolgi Lombok Barat, NTB)

Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Sumber: lombokita.com

 

Tags : alam semestabumibumi datarsainstrending

The author Redaksi Sahih