close
Kabar Internasional

Pertaruhan Besar Facebook di Metaverse, Apa Itu?

Sumber Foto: Freepik

Masa depan internet akan menjadi virtual dan “meta”, perusahaan yang dikenal publik sebagai Facebook menyatakan percaya bahwa satu miliar orang akan bekerja dan bermain di dunia tiga dimensi yang melingkupi, yang disebut sebagai metaverse, pada akhir dekade.

“Kami percaya metaverse akan menjadi penerus internet seluler,” kata CEO Facebook, Mark Zuckerberg pada konferensi pengembangan tahunan perusahaan, Kamis. Di mana perusahaan menyatakan secara resmi mengubah namanya menjadi Meta.

“Kita akan dapat merasa hadir seperti kita berada bersama orang-orang di sana, tidak peduli seberapa jauh jarak antara kita sebenarnya. Kita akan dapat mengekspresikan diri kita dengan cara baru yang menyenangkan, benar-benar mendalam,” katanya.

Diciptakan dalam novel fiksi ilmiah 1992 Snow Crash oleh Neal Stephenson, metaverse adalah konsep teknologi yang menggambarkan jaringan dengan tambahan perangkat realitas virtual yang dapat diakses di smartphone dan dengan sebuah pelindung. Alih-alih memuat aplikasi atau situs web, pengguna mengikat pelindung untuk berinteraksi di ranah virtual.

Orang tua dapat berbagi video anak-anak mereka dengan anggota keluarga dan merasa seolah-olah mereka berada di ruangan yang sama. Pertemuan dengan rekan kerja yang berada ribuan mil jauhnya akan memberikan pengaruh serupa. Menghadiri pertunjukan dengan seorang teman bisa berarti dua orang duduk di sofa mereka di rumah tetapi merasa seolah-olah mereka berada di sebuah tempat bersama ribuan orang lainnya.

Zuckerberg mengatakan kualitas yang menentukan dari metaverse adalah menjadikan “sebuah perasaan tentang kehadiran langsung.”

“Anda akan benar-benar merasa seperti berada di sana bersama orang lain. Anda akan melihat ekspresi wajah atau bahasa tubuh mereka,” kata Zuckerberg.

“Anda akan dapat berteleportasi secara instan sebagai hologram untuk berada di kantor tanpa perjalanan, di konser dengan teman, atau di ruang tamu orang tua Anda untuk mengejar ketertinggalan,” kata Zuckerberg dalam Founder`s Letter yang diunggah secara online.

Pengguna juga dapat membuat avatar di dunia maya yang menyerupai penampilan mereka di dunia nyata.

Avatar, kata Zuckerberg, akan sama seperti gambar profil di situs media sosial, tetapi “alih-alih gambar statis, akan ada representasi hidup tiga dimensi dari Anda.”

Pengguna mungkin dapat menyesuaikan avatar mereka untuk bekerja dan bermain. “Anda akan memiliki pakaian virtual untuk berbagai kesempatan yang dirancang oleh pembuat yang berbeda dari aplikasi dan pengalaman yang berbeda,” kata Zuckerberg.

Sementara beberapa blok bangunan metaverse sudah ada di sini, sebagian besar teknologi yang lain masih bertahun-tahun lagi baru akan tersedia secara luas.

Facebook mengatakan tidak ingin memiliki metaverse dan menyediakan alat yang memungkinkan pengembang untuk menghubungkan platformnya dengan pengembang lain.

Alat yang memungkinkan pembuat konten untuk menghubungkan berbagai lokasi fisik ke dalam pengalaman realitas virtual untuk tur virtual dan perburuan juga sedang dalam proses. Zuckerberg mengatakan alat ini akan memungkinkan “lebih banyak perdagangan dan membantu menumbuhkan ekonomi metaverse secara keseluruhan.”

Tetapi pertumbuhan metaverse juga akan berarti lebih banyak pengawasan terhadap perusahaan yang saat ini dikecam karena gagal melindungi pengguna dengan baik. Awal bulan ini, mantan karyawan Facebook Frances Haugen muncul ke publik setelah membocorkan ribuan dokumen yang menunjukkan bahwa pelaksana perusahaan tahu bahwa platform tersebut membantu menyebarkan informasi yang salah selama bertahun-tahun, tetapi tidak cukup untuk memerangi efek negatifnya.

Dalam kesaksian di depan komite kongres dan di “60 Minutes“, dia menuduh perusahaan itu mengutamakan keuntungan daripada orang (pengguna). Facebook telah membantah tuduhan itu.

Dalam beberapa dokumen internal bocor yang ditinjau oleh CBS News, peneliti Facebook mengungkapkan kekhawatiran bahwa perusahaan sering mengambil tindakan untuk melindungi pengguna setelah kerusakan terjadi.

Namun, chief technology officer Facebook, Andrew Bosworth, mengatakan kepada CBS News dalam sebuah wawancara eksklusif bahwa “miliaran orang mempercayai” Facebook.

“Mereka menunjukkannya dengan menggunakan produk yang kami buat setiap hari,” kata Bosworth, yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden Reality Labs untuk Meta. “Kami tidak menganggap enteng komitmen kami terhadap orang-orang.”

Bosworth mengatakan bahwa satu dekade lalu, industri teknologi tidak berpikir kritis tentang tantangan yang akan diciptakan produknya. “Itu bukan posisi kita pada hari ini,” katanya. “Kami sangat banyak mendiskusikan di muka bahaya yang dimungkinkan oleh teknologi atau diperkuat atau diekspos oleh teknologi dan apa yang dapat kami lakukan tentang hal-hal itu.”

Pada hari Kamis, Zuckerberg mengatakan salah satu pelajaran yang dia “internalisasi” dalam lima tahun terakhir adalah bahwa privasi dan keamanan perlu dibangun ke dalam metaverse sejak hari pertama.

“Dengan semua teknologi baru yang sedang dikembangkan, setiap orang yang membangun metaverse harus fokus membangun secara bertanggung jawab sejak awal,” kata Zuckerberg.

Nick Clegg, wakil presiden urusan global Meta, mengatakan teknologi baru cenderung mengabaikan pembuat undang-undang dan regulator. Namun kali ini, kata Clegg, Meta punya waktu untuk membangun kontrol keamanan seiring pertumbuhan produk.

“Kami memiliki waktu bertahun-tahun hingga metaverse, seperti yang kami bayangkan, terwujud sepenuhnya,” kata Clegg. “Ini adalah awal dari perjalanan,” tambahnya.

Penulis: Musadiq Bidar & Dan Patterson (Laurie Segall & Gisella Perez turut berkontribusi atas laporan ini).

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Nauval Pally Taran

Sumber: CBS News

Tags : facebookinternetMark Zuckerbergmetaversevirtual

The author Redaksi Sahih

Leave a Response