close

Sains

Rumitnya Kepercayaan Kita terhadap Sains

Sumber Foto: Pixabay

Sains seharusnya didasarkan pada bukti, tetapi pada kenyataannya, bagi kebanyakan orang, didasarkan pada kepercayaan. Bukti ilmiah sebagian besar tidak dapat diakses. Jurnal ilmiah sulit diperoleh dan artikelnya ditulis dalam bahasa khusus yang tidak dapat dipahami oleh semua orang, kecuali beberapa ahli di bidangnya. Kita memercayai apa yang dikatakan para ahli tentang hasil mereka tanpa memiliki kemampuan untuk mempertanyakan hasil itu sendiri. Kita percaya bahwa beberapa orang yang berpengetahuan akan menanyai itu jika perlu.

Jadi, secara historis, reputasi individu ilmuwan penting dalam memfasilitasi penyebaran teori dan penemuan ilmiah. Jika seorang ilmuwan tepercaya atau tampaknya dapat dipercaya, ide-ide ilmuwan tersebut pun demikian. Itulah mengapa nama Robert Boyle muncul pada laporan yang dihasilkan di laboratorium abad ke-17 meskipun teknisinya melakukan pekerjaan eksperimental, mencatat, dan dalam beberapa kasus, bahkan menulis laporan itu sendiri.

Hal itu dapat menyebabkan konsekuensi yang aneh. Misalnya, salah satu cara terbaik untuk tampil tepercaya adalah dengan dikaitkan pada teori atau penemuan populer. Sosiolog Robert Merton dan Harriet Zuckerman mengidentifikasi bagaimana ini dapat menghasilkan “Efek Matius”, sebuah prinsip yang berasal dari Matius 25: 29, “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia meraih limpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

Dengan kata lain, banyak ilmuwan terkenal menerima penghargaan yang tidak proporsional, dan itu karena kepercayaan yang diraih dalam siklus yang berulang-ulang. Para ilmuwan yang tidak terkenal, yang namanya tidak jelas, memiliki penghargaan atas pekerjaan mereka yang diperuntukkan bagi yang lain; itu, tentu saja, jika pekerjaan mereka bahkan dihargai dengan semestinya.

Merton menyoroti konsekuensi dari Efek Matius dalam bukunya The Sociology of Science, “Sejarah sains berlimpah dalam contoh makalah dasar yang telah ditulis oleh para ilmuwan yang relatif tidak dikenal, hanya untuk diabaikan selama bertahun-tahun. Pertimbangkan kasus [John James] Waterston, yang makalah klasiknya tentang kecepatan molekul ditolak oleh Royal Society yang dianggap sebagai ‘tidak ada apa-apa selain omong kosong’; atau [Gregor] Mendel, yang sangat kecewa dengan kurangnya tanggapan terhadap makalah-makalah bersejarahnya tentang hereditas, di mana mereka menolak untuk memublikasikan hasil penelitiannya lebih lanjut; atau [Joseph] Fourier, yang makalah klasiknya tentang penyebaran panas harus menunggu 13 tahun sebelum akhirnya diterbitkan oleh Akademi Prancis.”

Karena ilmuwan yang dikenal menerima pujian yang tidak proporsional, nama mereka menjadi tidak proporsional terkait dengan penemuan. Stephen Stigler, seorang profesor statistik, merumuskan hukum eponim Stigler untuk mengatasi situasi ini. Hukumnya menyatakan bahwa tidak ada penemuan ilmiah yang dinamai menurut penemu aslinya. Pythagoras bukanlah orang pertama yang menurunkan teorema Pythagoras , Edwin Hubble bukanlah orang pertama yang merumuskan hukum Hubble, dan seterusnya. Lucunya, Stigler memuji Robert Merton dengan penemuan sebenarnya dari hukum ini, yang berarti hukum Stigler tunduk pada keputusannya sendiri.

Namun, pada era sains besar (penelitian ilmiah yang mahal dan melibatkan tim ilmuwan yang banyak), penemuan jarang dilakukan oleh individu. Makalah ilmiah yang dihasilkan dari proyek kolaboratif besar-besaran—beberapa di antaranya memuat ratusan atau ribuan “penulis”—secara efektif anonim. Rekor jumlah penulis pada satu karya ilmiah saat ini adalah 5.154.

Makalah tersebut, sebuah kolaborasi di CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir) untuk mendeteksi massa Higgs boson, menghabiskan 24 dari 33 halamannya untuk mencantumkan penulis dan afiliasi mereka. Karena para penulisnya diurutkan berdasarkan abjad, fisikawan Georges Aad mengambil posisi terdepan seperti yang dilakukannya pada ratusan makalah ilmiah lainnya (walaupun baru-baru ini ia dicopot oleh Morad Aboud).

Siapa “penulis-penulis” di makalah sains besar? Sejarawan sains Peter Galison menjelaskan sekilas dalam bukunya yang berbobot Image and Logic.  Dia membahas proses author-ascribing (penulis dianggap terlibat) dan paper-writing (penulisan makalah) pada detektor sinar bertabrakan proton D0 di Fermilab. Pada tahun 1991, tim D0 menetapkan kriteria siapa yang secara sah dapat dihitung sebagai penulis di makalahnya. Kriteria termasuk waktu yang dihabiskan untuk proyek, kontribusi untuk sif kerja, dan kontribusi untuk analisis data.

Selanjutnya, dewan redaksi yang terdiri atas anggota kelompok proyek benar-benar menulis makalah. Makalah-makalah itu kemudian ditempatkan di papan buletin elektronik untuk dikritik dan dikomentari oleh semua orang. Beberapa proyek kolaboratif besar terus-menerus mempertahankan daftar penulis dari ratusan nama, yang secara otomatis dikirimkan pada setiap publikasi. Hal ini telah mendorong jurnal ilmiah tertentu untuk memberlakukan pedoman ketat tentang siapa yang memenuhi syarat untuk muncul di byline.

Makalah sains besar ini benar-benar berskala global. Menurut Pia Astone, salah satu dari enam penulis literal makalah yang mengumumkan deteksi pertama gelombang gravitasi, kelompok enam tidak pernah bertemu secara langsung, tetapi tetap terhubung melalui sistem telekonferensi, yang mendorong mereka untuk bercanda, “Matahari tidak pernah terbenam di atas kertas ini.”

Jika kita tidak mengenali siapa ribuan individu yang membentuk proyek sains besar ini, dan jika begitu sulit untuk mempelajari siapa penulis literalnya yang menyajikan bukti atas nama mereka, kepada siapa kita menaruh kepercayaan kita? Dalam “sains” itu sendiri, saya akan mengatakan, terlepas dari integritas atau ketelitian ilmuwan individu yang terlibat; siapa pun atau organisasi apa pun memiliki kredensial (sejenis kepercayaan) untuk dianggap sebagai ilmiah. Kepercayaan kita telah bergeser dari individu ke proyek. Setiap artikel berita clickbait dengan judul yang memuat kata-kata menurut sains menggarisbawahi intinya. Lagi pula, meskipun sains bisa menjadi elitis, tidak dapat diakses, dan politis, ia berhasil.

Akan tetapi, memercayai proyek sains itu sendiri mengarah pada masalahnya sendiri. Bagaimana jika seseorang berpikir bahwa orang lain adalah ahli, padahal sebenarnya tidak? Bagaimana jika seseorang memercayai orang lain, bahkan seorang ahli, yang berbohong? Skenario-skenario ini membuka proyek sains untuk disalahgunakan.

Contoh yang paling terang-terangan dari penyalahgunaan ini disajikan dalam buku Naomi Oreskes dan Erik Conway Merchants of Doubt, para ahli dan pakar menggunakan kredibilitas ilmiah mereka untuk mengaburkan konsensus tentang isu-isu, dari hujan asam hingga asap tembakau hingga pemanasan global. Kepengarangan, kemudian, melayani satu fungsi terakhir, yang dalam beberapa kasus hanya menguntungkan sejarawan seperti saya: akuntabilitas.


Penulis:
John Lisle
Ia adalah seorang profesor sejarah di Austin Community College

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Substantif: Nauval Pally Taran
Editor Naskah: Teuku Zulman Sangga Buana

Sumber: Scientific American

Tags : ilmuilmuwankepercayaansainssorotan

The author Redaksi Sahih