close

Feature

Ikan “Berdaging Mikroplastik”: Temuan Ekspedisi Tiga Sungai di Bengawan Solo

Sumber Foto: Freepik

SAHIH.CO – Hasil laboratorium Ekspedisi 3 Sungai—sebuah ekspedisi kolaboratif yang diiniasi oleh para peneliti, aktivis, masyarakat dan jurnalis—menemukan bahwa setiap 10 liter air di hulu Bengawan Solo mengandung 5 partikel mikroplastik. Mikroplastik itu ditemukan juga pada 14 jenis ikan di hilir sungai, yang sering dikonsumsi oleh masyarakat di sana.

Menurut hasil tes yang dilakukan di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup kota Gresik, Jawa Timur, sampel air limbah yang dibuang ke Sungai Bengawan Solo mengandung logam berat yang melebihi baku mutu. Kandungan tersebut adalah kadmium 0,03 mg/l, khrom 0,45 mg/l, sianida 0,09 mg/l dan khlorin 2,1 mg/l.

Jumlah dari sampel di atas jauh melebihi standar yang telah ditetapkan. Di mana berdasarkan standar, kadmium 0,01 mg/l, khrom 0,05 mg/l, sianida 0,02 mg/l, dan khlorin <0,03 mg/l.

Hanya saja, karena industri tekstil dan alkohol yang melatari kerusakan sungai ini menghidupi ribuan rumah tangga menengah ke bawah di sekitarnya, tidak ada cara lain untuk mengentaskan permasalahan ini kecuali dengan kehadiran pemerintah secara langsung, seperti menginstalasi pengolahan air limbah atau ipal-ipal komunal.

Dari sini, orientasi proyek-proyek insfastruktur tampaknya perlu diubah, dari memfasilitasi modal besar dan bias kepentingan serta citra politik, menjadi proyek insfastruktur yang dapat menopang ekonomi masyarakat, yang sekaligus juga dapat menyelamatkan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, seperti ipal-ipal komunal di sepanjang sungai-sungai di Jawa.

Oleh karena itu, apa yang terjadi di hulu sungai kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, hingga 548 km yang bermuara di  Gresik, Jawa Timur, semestinya menjadi hal yang dianggap serius. Tumpukan sampah plastik di hilir Bengawan Solo ini, sebagiannya akan berakhir di perut ikan yang kemudian juga akan sampai dalam tubuh manusia.

Kandungan logam berat yang masuk ke dalam sistem tubuh manusia dapat memengaruhi sistem saraf dan hormon. Hal inilah yang memicu beragam penyakit untuk mudah tumbuh. Paparan panas matahari dan air hujan yang silih berganti, pelan tapi pasti akan menjadikan sampah-sampah ini menjadi remah atau mikroplastik yang ukurannya kurang dari 5 mm.

Dalam perjalanan ke ujung sungai Begawan Solo, tim ekspedisi mengumpulkan 14 jenis ikan yang sering dikonsumsi masyarakat untuk diteliti kandungan mikroplastiknya. Dari sampel ini, semuanya tervalidasi mengandung mikroplastik. Di mana jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan di semua jenis ikan adalah fiber. Fiber ini bersumber dari tekstil, baik yang berasal dari industri maupun dari limbah cucian jutaan rumah tangga yang tidak diolah.

Mikroplastik jenis fiber ditemukan paling sedikit dalam dua partikel pada ikan keting hingga 30 partikel pada ikan bandeng. Karena terdapat di perut ikan, mikroplastik ini memang tidak memengaruhi secara langsung pada daging ikan yang kita konsumsi. Hanya saja, mikroplastik memiliki sifat mengikat polutan-polutan lainnya yang ada dalam air seperti logam berat.

Polutan-polutan inilah yang diserap oleh sistem peredaran darah ikan, yang akhirnya mencemari seluruh bagian ikan yang selanjutnya kita konsumsi.

Dari semua uji sampel mikroplastik yang tim ekspedisi lakukan di segmen hulu Begawan Solo menunjukkan kandungan mikroplastik rata-rata adalah 50 partikel/100 liter air. Artinya, setiap 10 liter air Bengawan Solo mengandung setidaknya 5 partikel mikroplastik.


Penyadur:
M. Haris Syahputra
Editor: Nauval Pally Taran

Sumber: Watchdoc Image

Tags : alambumilingkunganplastikpolusisungai

The author Redaksi Sahih