close

Feature

Saya Tahu Bagaimana Rasanya Kelaparan di Masa Kecil

Anak-Anak Haiti - Sumber Foto: Pixabay

SAHIH.CO, PORT AU PRINCE – Seorang ahli agronomi yang bekerja untuk Program Pangan Dunia (WFP) di Haiti mengatakan kepada UN News bahwa, seperti orang-orang yang dia bantu hari ini, dia ingat bagaimana rasanya kelaparan di masa kecil.

Sebagai seorang anak, Rose Senoviala Desir tinggal di Kota Cap Haitien di Haiti Utara dan menerima makanan panas sebagai bagian dari program pemberian makanan sekolah WFP, tetapi ia akan kelaparan di akhir pekan ketika tak ada jadwal sekolah. Dia mengatakan memberi makan anak-anak Haiti dengan cara ini memengaruhi keputusannya untuk suatu hari bekerja dengan WFP.

“Ibu saya adalah seorang guru dan harus melakukan perjalanan jauh untuk bekerja, jadi dia tidak bisa memasak untuk saya dan tiga saudara laki-laki sampai sore hari. Saya beruntung karena saya bersekolah di sekolah di mana WFP menyediakan makanan panas gratis untuk anak-anak. Saya menerima makanan ini dari usia lima atau enam sampai 12 tahun.

Adikku, yang lima tahun lebih muda dariku, tidak mendapatkan makanan sekolah, jadi saya pergi ke dapur setelah semua anak makan dan meminta untuk membawa pulang makanan untuknya. Di akhir pekan, kami tidak menerima makanan panas itu, jadi kami terkadang tidak makan, jadi saya tahu seperti apa rasanya lapar.

Dan saya mengerti betapa lebih sulitnya belajar dengan perut kosong. Ibu saya menghabiskan semua uang yang dia miliki untuk menyekolahkan anak-anaknya. Itu membuat saya menyadari betapa pentingnya WFP bagi keluarga saya dan negara saya.

Saya selalu tertarik pada tanaman, hewan, dan pertanian. Pada liburan sekolah, saya selalu pergi ke rumah kakek-nenek saya yang berada di luar kota dan membantu di sebidang tanah kecil mereka. Saya belajar cara beternak kambing, juga ayam, bebek, dan kalkun dan saya pergi ke peternakan ikan bersama kakek saya untuk memilih ikan yang akan kami beli untuk dijual atau dimakan sendiri.

Saya juga diajari cara menanam dan memanen sukun, buah enak yang dijual nenek saya di pasar. Saya akan membantu memilah-milah kacang yang telah ditanam kakek-nenek saya; kacang putih mendapat harga terbaik diikuti oleh kacang merah dan kemudian hitam, jadi tugas saya adalah memilahnya untuk dijual.

Saya belajar banyak, membantu kakek-nenek saya dan sangat menikmatinya sehingga membangun pemahaman itu, dengan belajar agronomi di universitas, adalah pilihan yang jelas bagi saya. Saya bekerja sebagai mulai dari pembantu rumah tangga sampai ke dokter sehingga saya mampu membayar biaya, dan saya lulus pada tahun 2014.

Saya selalu ingin belajar, tetapi juga untuk berbagi pengetahuan, dan telah melatih banyak wanita tentang masalah pertanian. Saya menyadari bahwa yang paling saya inginkan dari kehidupan adalah membantu orang-orang yang rentan, bahkan menyelamatkan nyawa, sehingga nilai-nilai saya sangat selaras dengan nilai-nilai WFP.

Pekerjaan saya sekarang difokuskan pada membangun ketahanan di antara penduduk pedesaan, membantu mereka beradaptasi dengan perubahan iklim dan mendukung upaya mereka untuk melindungi tanah dan mata pencaharian mereka dengan membangun struktur yang akan mencegah erosi dan membantu irigasi.

Sebagian besar pekerjaan ini diselesaikan pada tahun lalu dan kami sudah melihat peningkatan dalam hal tanaman yang tahan terhadap kondisi cuaca buruk serta dapat mengalami peningkatan hasil.”— UN News

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Nauval Pally Taran

Sumber: Saudi Gazette

Tags : afrikaduniahaitikelaparankemanusiaankemiskinanPBBWFP

The author Redaksi Sahih