close

Dunia TengahOpini

Penyerangan Masjid Al-Aqsa Selama Ramadan Tidak Terjadi Begitu Saja: Zionis Merencanakannya

Sumber Foto: Muslim Skeptis

Sudah menjadi ritual bagi Negara Zionis untuk menargetkan muslim selama Ramadan.

Seolah-olah Israel, sebagian besar sekuler, tidak memiliki bulan yang didedikasikan untuk menyembah dirinya sendiri, sehingga harus memiliki bulan yang didedikasikan untuk menyerang jemaah.

Dalam konteks ini, mereka menargetkan Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga umat Islam.

BBC melaporkan:

“Lebih dari 150 warga Palestina terluka dalam bentrokan dengan polisi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem,” kata petugas medis Palestina.

Polisi Israel mengatakan petugas memasuki lokasi setelah diserang dengan kembang api, batu, dan benda lainnya.

“Tiga polisi Israel terluka,” kata mereka.

Situs flashpoint (tempat, peristiwa, atau waktu di mana masalah, seperti kekerasan atau kemarahan, berkobar) sangat penting bagi muslim dan Yahudi, yang mengenalnya sebagai Temple Mount, dan merupakan inti dari klaim sejarah yang bersaing.

Semua ini terjadi saat Mufti Menk berbuka puasa dengan Zionis.

Apa yang akan kita lihat adalah “klaim historis” yang dibuat oleh Zionis. Ini bukan pertama kalinya Zionis menyerang Masjid Al-Aqsa, atau lebih khusus lagi kompleks al-Haram al-Sharif. Ini adalah bagian dari konspirasi Zionis yang panjang, yaitu membangun kembali kuil mereka yang mereka anggap berasal dari Nabi Sulaiman (‘alaihi as-salam), sebuah kuil yang dihancurkan dua kali sebelumnya. Kuil Suci baru yang ingin mereka bangun adalah “Kuil Ketiga”. Tapi Al-Aqsa menimbulkan masalah.

Serangan Masa Lalu di Al-Aqsa

Sudah banyak buku-buku hebat yang ditulis oleh umat Islam mengenai masalah Zionis. Salah satunya adalah Encyclopedia of the Palestine Problem (Ensiklopedia Masalah Palestina) karya sarjana hukum Palestina, Dr. Issa Nakhleh.

Beberapa babnya telah dirilis ke dalam bentuk buku baru -baru ini, Penodaan Yerusalem, di mana ia menulis tentang serangan Zionis di masa lalu terhadap Al-Aqsa, yang bukan hanya berupa serangan frontal dalam bentuk kekerasan oleh ekstremis Zionis tetapi juga mekanisme terorisme budaya yang “lebih halus”, seperti kenyamanan penggalian arkeologis yang dilakukan atas nama “sains” dan “sejarah”.

Dia menulis pada halaman 39-40:

Upaya Israel untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan Dome of Rock (Kubah Batu) telah melewati beberapa tahap, yang terpenting adalah sebagai berikut

  1. Pada tanggal 21 Agustus 1969, otoritas pendudukan terlibat dalam upaya pembakaran Masjid Al-Aqsa. Tindakan pembakaran itu menghancurkan Mimbar Salahuddin yang bersejarah dan bagian-bagian masjid yang cukup besar. Kebakaran tersebut menyebabkan retakan parah di sejumlah pilar masjid yang nantinya mengakibatkan runtuhnya sebagian langit-langit masjid. Penduduk Arab Yerusalem menghadapi tindakan pembakaran yang keji ini tanpa bantuan dari otoritas pendudukan dengan mengangkut ember air dengan tangan sampai mereka berhasil memadamkan api.
  2. Awal tahun 1980, sebuah upaya dilakukan untuk meledakkan Masjid Al-Aqsa dengan bahan peledak dalam rencana konspirasi yang akan dieksekusi oleh Rabbi Meir Kahane. Bahan peledak itu ditemukan beberapa menit sebelum diledakkan pada jarak 50 meter dari masjid.
  3. Orang-orang fanatik Yahudi telah berulang kali berusaha untuk melakukan salat di area luas Masjid Al-Aqsa, serupa dengan apa yang telah mereka lakukan di Tempat Suci Ibrahimi di Hebron.

Para ekstremis Yahudi, selanjutnya, pada 9 Agustus 1981 berusaha memasuki tempat suci dalam jumlah besar pada beberapa kesempatan dan dari berbagai gerbang menuju Tempat Suci Al-Aqsa untuk melakukan salat di dalamnya. Mereka mendobrak Gerbang Magharbah, Gerbang Besi dan naik ke gedung Tankinazia yang menghadap ke ruang terbuka masjid, di mana otoritas pendudukan ditempatkan. Tetapi para jemaah muslim menghadapi para pelanggar itu dan mengusir penyusupan mereka.

  1. Banyak penggalian Israel dilakukan di sekitarnya, serta di bawah fondasi Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu yang suci.

Penulis melanjutkan dengan menyebutkan banyak upaya lain penghancuran Al-Aqsa oleh Zionis.

Tapi mengapa mereka begitu bersikeras menghancurkannya?

Membangun kembali Kuil Ketiga

Penulis yang sama melanjutkan, hlm. 68-69:

Konspirasi kriminal untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan membangun kembali Kuil Yahudi di situsnya sama tuanya dengan program Zionis. Zionis menyatakan bahwa “tidak akan ada Zion tanpa Yerusalem, dan tidak ada Yerusalem tanpa Kuil Yahudi.” Zionis tidak pernah menyembunyikan tujuan kriminal mereka, dan banyak pemimpin politik dan agama mereka telah menyatakan bahwa penghancuran Masjid Al-Aqsa dan pembangunan kembali Kuil Yahudi di situsnya adalah salah satu tujuan yang paling mereka hargai.

Fakta-fakta berikut adalah beberapa dari banyak fakta—yang secara meyakinkan—membuktikan konspirasi Zionis mengenai Masjid Al-Aqsa.

Dalam sebuah laporan tertanggal Juli 1920, Jenderal L. Boiz, Direktur Jenderal Administrasi Inggris di Palestina, menyatakan bahwa Kepala Rabi Palestina, Abraham Ishaq Kook, bersama dengan kaum pendeta Yahudi dan Pak Ussichkin, Wakil Presiden Organisasi Zionis, secara resmi meminta Pemerintah Inggris dan Administrasi Inggris di Palestina untuk menyerahkan kepada orang-orang Yahudi seluruh area Masjid Al-Aqsa.

Pada tahun 1922, Lord Melchett (sebelumnya Sir Alfred Mond), anggota Kabinet Inggris, membuat pernyataan berikut:

“Hari di mana Kuil Suci Yahudi akan dibangun kembali sudah sangat dekat. Saya akan mendedikasikan sisa hidup saya untuk rekonstruksi Kuil Sulaiman di lokasi Masjid Al-Aqsa.”

Dia memberikan banyak contoh lain tentang para pemimpin Zionis yang secara terbuka mengakui bahwa mereka ingin menghancurkan Al-Aqsha untuk membangun Kuil Ketiga.

Namun, apa yang pembaca mungkin perhatikan adalah bahwa ada kutipan pejabat Inggris, yang mengingatkan kita bahwa Zionisme adalah sebuah ideologi yang dianut oleh orang-orang Kristen, terutama kelompok Kristen Evangelis Amerika, bahkan mungkin lebih besar dari sebagian besar populasi Yahudi di seluruh dunia, dan Zionis Kristen ini memiliki alasan sendiri untuk membawa kembali Kuil Suci.

Sudah berabad-abad yang lalu ketika Tentara Salib menduduki Al-Aqsa, mereka menyebutnya “Kuil Sulaiman,” dan rencana neo-Crusader bahkan lebih jahat.

Zionisme Kristen Ingin Mempercepat Akhir Dunia

Nur Masalha adalah sejarawan Palestina kontemporer yang menulis sebuah buku penting tentang Zionisme, The Bible and Zionism: Invented Traditions, Archaeology and Post-Colonialism in Palestine-Israe (Alkitab dan Zionisme: Tradisi yang Diciptakan, Arkeologi, dan Pasca-Kolonialisme di Palestina-Israel).

Di sini ia mengungkap argumen Zionis tentang Kuil Ketiga, dan secara khusus menyerang Zionis Kristen.

Kita lanjut membaca pada halaman 120-124:

Pendukung Zionisme Kristen kontemporer bersikeras bahwa gerakan ini diamanatkan dalam Perjanjian Lama dan Baru, yang, menurut mereka, adalah sumber motivasi mereka (Wagner, 1995: 97-113). Zionis Kristen–seperti rekan-rekan Yahudi mereka–berbicara tentang ‘rantai tak terputus dari kehadiran Yahudi di kota, dari awal hingga kebangkitan Zionisme di akhir abad kesembilan belas. Sementara Yerusalem adalah pusat dalam imajinasi keagamaan, ini pada kenyataannya tidak pernah diterjemahkan ke dalam realitas ­politik, sosial, ekonomi, demografi, budaya dan intelektual. Memang, Yerusalem tidak pernah menjadi pusat utama Yudaisme selama 2.000 tahun terakhir. (…)

Bagi beberapa fundamentalis Kristen Evangelis, khususnya, ‘Pertempuran untuk Yerusalem’ adalah ‘Pertempuran Armageddon Akhir Hari’. Tampaknya ­di AS terdapat sekitar 60 juta orang Kristen Evangelis yang menganut eskatologi apokaliptik ini. Dalam ‘Pertempuran untuk Yerusalem’, fundamentalis Kristen ­telah menemukan kesamaan dengan radikal agama Yahudi dan Zionis garis keras. Para fundamentalis memiliki lima prinsip yang sama: (a) kepercayaan pada ‘kesucian’ Negara Israel modern; (b) dukungan untuk Israel Raya dan ekspansionisme teritorial Zionis, termasuk kedaulatan Yahudi atas ‘Seluruh Tanah Israel’; (c) dukungan untuk kedaulatan eksklusif Yahudi atas Yerusalem Raya; (d) keinginan dan tekad kuat untuk membangun Kuil Ketiga di situs tempat suci muslim di al-Haram al-Sharif; dan (e) permusuhan umum terhadap Islam–termasuk klaim bahwa umat Islam menyembah Tuhan yang berbeda dari Tuhan Yahudi dan Kristen–yang dianggap sebagai musuh bersama.

Pada dasarnya, Zionis Kristen ini ingin membangun kembali Kuil Ketiga hanya untuk mempercepat akhir zaman.

Sebuah kasus terkenal dari serangan Zionis Kristen di Al-Aqsa adalah ketika Denis Michael Rohan, seorang Australia yang “terbelakang mental”, mencoba untuk membakarnya pada tahun 1969, yang akhirnya menghancurkan mimbar berusia 800 tahun. Kejadian tersebut cukup mengejutkan umat sampai pada titik bahwa serangan tersebut memacu berdirinya Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Perlu diingat bahwa para Zionis Kristen ini adalah mereka yang menghabiskan banyak uang untuk membuat Islam tampak kejam, tetapi tampaknya mereka tidak memiliki masalah dalam mengakui bahwa mereka bertujuan untuk Perang Dunia di mana korban utama, tentu saja bukan pecinta burger Kristen Evangelis Amerika, melainkan Palestina, muslim dan juga Kristen, serta Israel, termasuk Yahudi.

Memang, seperti yang Masalha tunjukkan, bagi para Zionis Kristen ini, orang-orang Yahudi Israel pada dasarnya akan menjadi semacam domba kurban.

Mungkin orang-orang Yahudi, termasuk Zionis mereka, harus menyadari rencana murah hati seperti yang dimiliki orang Kristen untuk mereka. Dan mungkin umat Kristen Evangelis harus menyadari rencana yang dimiliki Zionis Yahudi untuk mereka.

Adapun bagi kita, umat Islam, kita harus tahu bahwa serangan semacam itu bukan “acak”, tetapi bagian dari konspirasi yang lebih besar untuk memukul Islam pada intinya dan untuk berperang melawan umat Islam.

Penulis: Bheria

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Arif Rinaldi

Sumber: Muslim Skeptis

Tags : israelkemanusiaankonflikmuslimPalestinayahudiyerusalemzionisme

The author Redaksi Sahih