close
Ragam

Daya Pikat Energi Surya

Sumber Foto: Pixabay

Pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia.

Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Di Indonesia sendiri, potensi energi surya sangat besar, yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp, tetapi yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 10 MWp saja.

Saat ini pemerintah telah mengeluarkan roadmap pemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 adalah sebesar 0.87 GWp atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah ini merupakan gambaran potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya di masa mendatang.

Melansir dari Databoks, hasil survei persepsi masyarakat terhadap energi terbarukan yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan bahwa mayoritas responden (50%) tertarik menggunakan sumber energi terbarukan yang berasal dari matahari.

Setelah matahari, 46,1% responden lainnya mengatakan tertarik untuk menggunakan sumber energi terbarukan yang berasal dari air. Diikuti setelahnya sumber energi yang berasal dari apa pun selama aman terhadap lingkungan dan kesehatan (44,2%).

Survei yang dilakukan oleh KIC ini juga menemukan bahwa 50,3% responden menyatakan bersedia membayar lebih mahal untuk menggunakan energi terbarukan.

Dari jumlah responden yang bersedia membayar lebih mahal, 55,9% di antaranya beralasan ingin berkontribusi agar sumber energi terbarukan terus dikembangkan. Sedangkan 50,3% lainnya beralasan karena energi terbarukan tidak menimbulkan kerusakan dan dampak buruk terhadap lingkungan.

Survei yang dilakukan pada 26 Februari – 6 Maret 2022 ini melibatkan 4.821 responden yang berusia di atas 18 tahun yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Metode survei yang digunakan adalah survei daring dengan non-probability sampling.

Saat ini pengembangan PLTS di Indonesia telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan. Namun, pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Secara teknologi, industri fotovoltaik (PV—photovoltaic) di Indonesia baru mampu dilakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel surya yang digunakan masih impor.

Padahal, sel surya adalah komponen utama namun juga yang paling mahal dalam sistem PLTS. Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka menurunkan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Penulis: M. Haris Syahputra
Editor: Arif Rinaldi

Tags : alamenergi terbarukanlingkunganmasa depan manusiamataharitenaga listrik

The author Redaksi Sahih