close
Esai

Hijab dan Kebencian Barat: Apakah Muslim Turut Berkontribusi pada Masalah Itu?

Sumber Foto: DW

Di Prancis, hijab (jilbab) dianggap sebagai simbol islamisme dan islamofobia.

Ia adalah sepotong pakaian yang menyebabkan kontroversi besar dan perselisihan di tanah pencerahan setiap tahun.

Dengan begitu banyak kebisingan, orang bertanya-tanya, “Ada apa dengan hijab sehingga mengganggu orang Eropa?”

Pada tingkat psikologis murni, bagi saya, jawabannya diberikan oleh Marlene Schiappa—mantan Menteri Kewarganegaraan Prancis—yang mengatakan pada tahun 2020 bahwa “Prancis adalah negara kebebasan.”

Kebebasan seksual dan pesta pora begitu mendarah daging dalam pikiran Prancis sehingga tak dapat ditolerir bagi mereka bahwa seorang wanita menghalangi mereka dari tampilan pesonanya.

Sebagai bukti interpretasi saya, kata “beurette”—kata vulgar dalam Bahasa Prancis yang menunjuk seorang wanita Arab—adalah kategori yang paling banyak dicari di Prancis di situs web dewasa.

Eric Zemmour benar ketika dia mengatakan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di saat yang tepat, bahwa masalah sebenarnya orang Prancis dengan hijab adalah endogami. Hijab menandakan bahwa wanita berkerudung itu menyimpan dirinya untuk seorang pria muslim dan bahwa dia tidak dapat diakses oleh orang-orang kafir.

Jadi apakah ini alasan mengapa 65 persen orang Prancis mendukung pelarangan hijab di jalanan menurut sebuah survei oleh lembaga CSA?

Secara rinci, 35 persen dari mereka yang disurvei mengatakan mereka “sangat mendukung” pelarangan hijab di ruang publik, sementara 25% mengatakan mereka “agak mendukung”. Di sisi lain, 24 persen responden “agak menentang” dan 16 persen dengan tegas menolak pelarangan tanda keagamaan ini di jalan dan ruang publik lainnya.

Pelajaran lain dari survei ini adalah bahwa proposal ini lebih banyak didukung oleh pria daripada wanita. Dengan demikian, 65 persen responden pria sangat mendukung pelarangan hijab di jalan, dibandingkan 56 persen wanita.

Di Balik Hijab

Retorika kiri dan kanan tidak membantu membuat segalanya lebih transparan. Kelas politik sendiri tampaknya bingung dengan masalah ini.

Politisi sensibilitas kiri cenderung mengatakan bahwa hijab merendahkan perempuan dan mengungkapkan ketidaksetaraan antara jenis kelamin. Mereka yang condong ke kanan mengatakan bahwa itu adalah spanduk politik, simbol kaum islamis, yang berusaha menjajah ruang visual Prancis.

Bandingkan ini dengan apa yang dikatakan Al-Qur’an dengan cukup jelas menerangkan kebijaksanaan hijab yang sebenarnya,

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. (cara) Yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Qur’an, 33:53).

Kebijaksanaan di balik tabir itu eksplisit. Hijab adalah perangkat kesopanan, membantu pria dan wanita untuk menjaga diri mereka bebas dari kebejatan.

Jadi mengapa orang-orang kafir tidak menyadari hal ini?

Reaksi muslim terhadap politik Eropa sering kali secara kategoris menyimpulkan bahwa ledakan anti-hijab ini disebabkan oleh kebencian buta orang Prancis terhadap Islam. Ini tampaknya masuk akal. Kita semua mengakui sentimen anti-agama dan anti-Islam yang kuat dari massa Eropa.

Namun, izinkan saya meredam pandangan ini.

Pertanyaan sebenarnya adalah, “Bagaimana mungkin para islamofobia melihat hijab sebagai sarana kesopanan ketika hal itu sekarang menjadi pernyataan mode yang norak dan tidak sopan?”

Setiap detik, ribuan wanita muslim memosting selfie mereka yang difilter di internet. Instagram penuh dengan foto-foto hijabers dengan riasan wajah dan penampilan cabul. Wanita berniqab membagikan video tak senonoh tentang diri mereka sendiri di Tik Tok dan Youtube Shorts.

Bagaimana kita mengharapkan para islamofobia memandang hijab sebagai alat kesopanan dan harga diri yang seharusnya?

Para wanita muslim ini adalah yang pertama mempersenjatai hijab dengan cara ini. Dan pria muslim tidak lolos. Di mana para suami, ayah, dan saudara lelaki yang mencegah kerusakan moral seperti itu?

Lebih buruk lagi, banyak dari wanita ini telah mencoba menggunakan hijab sebagai senjata politik.

Ambil saja contoh, dialog menjijikkan yang terjadi antara Macron dan seorang hijaber di tengah kerumunan di Strasbourg, beberapa hari sebelum pemilihan:

Hijaber ke Macron: Apakah Anda seorang feminis?

Macron: Ya, tentu saja.

Hijaber : (tertawa keras) Ah, bagus kalau begitu, Pak!

Macron: Tidak, hal yang indah adalah… Apakah Anda seorang feminis?

Hijaber: Ya, saya seorang feminis.

Macron: Apakah Anda (memakai hijab) untuk kesetaraan antara pria dan wanita?

Hijaber: Untuk kesetaraan antara pria dan wanita.

Macron: Bisakah saya mengganggu?

Hijaber: Iya.

Macron: Apakah Anda mengenakan hijab karena pilihan, atau dipaksakan?

Hijaber: Itu karena pilihan, sepenuhnya karena pilihan, Pak.

Ada banyak yang bisa dikatakan untuk percakapan ini. Namun faktanya dari awal ada yang salah. Bagaimana Anda bisa mengilhami kerendahan hati ketika Anda berdiri menantang seorang pria, saling berhadapan, di tengah kerumunan pria dan wanita, dan tertawa terbahak-bahak?

Semua ini berkontribusi pada perubahan persepsi non-muslim tentang hijab. Itu telah menjadi simbol konfrontasi, kemarahan, pembangkangan, protes, feminisme, gangguan, yaitu semua hal yang bertentangan dengan kesopanan.

Semua ini tidak untuk membela serangan islamofobia keji terhadap hijab oleh politisi dan orang-orang Barat. Banyak dari mereka akan membenci hijab apa pun yang terjadi.

Akan tetapi, kita juga perlu melatih beberapa derajat tentang kritik bagi diri sendiri. Bagaimana distorsi komunitas kita terhadap pesan hijab berkontribusi pada sentimen negatif di sekitarnya dari non-muslim?


Penulis:
Hud Lesprit

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Arif Rinaldi

Sumber: Muslim Skeptic

The author Redaksi Sahih