close

Politik & Hukum

George W. Bush Secara Tak Sengaja Mengakui Perang Irak ‘Tak Dapat Dibenarkan dan Brutal’

Sumber Foto: NPR

Sigmund Freud tak dapat dimintai komentar, tetapi George W. Bush, ketika ia mengatakan Irak bukannya Ukraina saat mengutuk “invasi yang sepenuhnya tak dapat dibenarkan dan brutal”, tentu saja menunjukkan bahwa dia masih memiliki banyak pikiran bawah sadarnya.

Mantan presiden dengan bercanda mengaitkan pengalaman buruk itu dalam 75 tahun hidupnya, tetapi selalu ada hubungan yang tidak sejalan antara otak dan lidahnya. Ada banyak buku yang penuh dengan “Bushisme” (Kebijakan atau prinsip yang dibela oleh mantan presiden AS George W. Bush), seperti bualannya bahwa orang-orang “salah menilai” dia, dan betapa dia merasa sangat iba terhadap ibu tunggal (yang suaminya meninggal karena perang) “bekerja keras untuk memberi makan keluarga mereka”.

Mungkin ada sesuatu yang terpengaruh dari Freud tentang peringatannya pada tahun 2004 di mana dia mengatakan bahwa musuh-musuh Amerika “tidak pernah berhenti memikirkan cara-cara baru untuk membahayakan negara dan rakyat kita dan kita juga tidak”. Dan kemudian ada saat dia berterima kasih kepada seorang jenderal angkatan darat atas pengabdiannya pada tahun 2008, mengatakan kepadanya bahwa dia “benar-benar merebut kekalahan dari rahang mereka yang mencoba untuk mengalahkan kita di Irak”.

Bush telah memberi tahu kita bahwa kegagalan senjata pemusnah massal Irak yang tidak ada masih mengganggunya.

“Tidak ada yang lebih terkejut dan marah daripada saya ketika kami tidak menemukan senjata,” tulisnya dalam memoarnya, Decision Points (Poin Keputusan).

“Saya memiliki perasaan yang memuakkan setiap kali saya memikirkannya. Saya masih memikirkannya.”

Namun Bush berusaha untuk membenarkan invasi 2003, dengan alasan bahwa Saddam Hussein adalah seorang zalim yang kejam yang “mengejar” senjata pemusnah massal (WMD) dan karena itu AS lebih aman tanpa dia di dunia.

Presiden ke-43 itu membuat argumen serupa kepada audiensi di perpustakaan kepresidenannya di Dallas ketika dia melakukan kesalahannya pada hari Rabu.

Bush membuat perbedaan antara Volodymyr Zelenskiy yang terpilih secara demokratis, “Churchill abad ke-21”, dan pemilihan yang curang dan despotisme Rusia Vladimir Putin, di mana tidak adanya check and balances menyebabkan “keputusan satu orang untuk meluncurkan invasi yang sepenuhnya tidak dapat dibenarkan dan brutal ke Irak–maksud saya Ukraina”.

Penonton tertawa bersama, tetapi kesalahannya adalah pengingat bahwa dunia masih hidup dengan konsekuensi dari invasi itu. Itu menghancurkan Irak dan memicu perang saudara sektarian di mana ratusan ribu orang tewas.

Hampir dua dekade kemudian, hal itu terus melemahkan AS di panggung dunia, dan tidak diragukan lagi merupakan faktor dalam ambivalensi negara-negara di Afrika dan Timur Tengah terkait bergabung dalam respons global yang menentukan terhadap invasi Putin ke Ukraina.

Putin secara sinis menyalin dari buku pedoman Irak yang ditinggalkan oleh pemerintahan Bush, dengan klaim palsu dari senjata pemusnah massal Ukraina. Kegagalan AS untuk menuntut kejahatan perang oleh pasukan dan kontraktor AS, penggunaan penyiksaan dalam “perang global melawan teror”, dan kampanye Bush untuk melemahkan pengadilan pidana internasional, semuanya berkontribusi pada lingkungan yang lebih permisif untuk banyak kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah mengikuti Irak, dari Suriah ke Ukraina, dan seterusnya.

Rabu Bushisme adalah pengingat bahwa untuk semua lelucon yang mencela diri sendiri dari mantan presiden itu tentang Irak, tidak pernah benar-benar lucu.

Penulis: Julian Borger

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor:
Arif Rinaldi & Nauval Pally Taran

Sumber: The Guardian

Tags : Amerika SerikatinternasionalIrakkemanusiaankonflikPerangpolitikukraina

The author Redaksi Sahih