close

BeritaBisnis

Inflasi Masih Terus Mengancam

Sumber Foto Ilustrasi: Pixabay

SAHIH.CO – The Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan besaran bunga acuan sebesar 75 basis poin. Kenaikan ini merupakan yang paling agresif dari yang pernah terjadi sejak 1994 dan membuat suku bunga acuan The Fed saat ini menjadi 1,75%.

Dilansir dari Big Alpha, kebijakan Tapering Off yang diambil The Fed menyebabkan investor asing tertarik mengalirkan uang ke Amerika akibat kenaikan suku bunga di sana, serta memilih meninggalkan pasar keuangan negara berkembang termasuk Indonesia, demi memperoleh return yang lebih tinggi.

Kebijakan The Fed tersebut bukan tanpa dampak buruk terhadap Indonesia. Sebab, sebagai stimulus ekonomi, The Fed mencetak uang dolar US dalam jumlah besar. Money supply yang bertambah ini selanjutnya akan beredar ke seluruh dunia. Sejenak US Dolar memang akan terasa ‘murah’, namun ketika Tapering terjadi, supply dolar akan mulai berkurang, sehingga akan berefek pada naiknya nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar.

Pada bulan Mei lalu, angka inflasi di Amerika Serikat mencapai angka tertinggi selama empat dekade terakhir. Hal ini menyebabkan sejumlah barang mengalami kenaikan harga, mulai dari minyak dan gas yang naik 34,6% dari tahun sebelumnya, bensin 49%, bahan makanan 11,9% per tahun, listrik 12%, dan sewa tempat tinggal 5,2% dari tahun sebelumnya.

Di Indonesia sendiri, tingkat inflasi tahunan pada Mei 2022 mencapai 3,55%, dan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,42. Laju inflasi tahunan ini menjadi rekor tertinggi sejak awal pandemi pada Maret 2020.

Meski tidak semua, kenaikan harga pangan dan energi akibat inflasi telah memaksa sejumlah industri makanan dan minuman menaikkan harga jual produknya rata-rata sekitar 5% pada bulan ini. Kenaikan harga produk tersebut terutama dilakukan indusri kecil dan menengah.

Dilansir dari Katadata, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, dampak kenaikan harga pangan global sudah terasa sejak tahun lalu, namun dampak tersebut semakin parah saat perang Rusia-Ukraina meletus, yang mengakibatkan pembatasan ekspor oleh sejumlah negara.

“Inflasi (global) cukup besar pengaruhnya pada harga bahan baku yang tinggi, selain itu juga energi dan biaya logistik yang meningkat,” ujarnya.

Menurut Adhi, kenaikan harga jual produk sebesar 5% sebenarnya belum menutupi biaya produksi tambahan akibat melonjaknya harga bahan baku. Namun demikian, daya beli dan pasar diperkirakan tidak bisa menoleransi kenaikan harga yang lebih tinggi.

 

Pewarta: M. Haris Syahputra
Editor: Nauval Pally Taran

Tags : bisnisekonomiinflasimasyarakatpolitik

The author Redaksi Sahih