close
Feature

Udara Jakarta yang Makin Tak Sehat

Sumber Foto: Katadata

Sudah berhari-hari langit ibu kota tampak mendung oleh polusi, pandangan mata juga terbatas, gedung-gedung pencakar langit terlihat samar dari jarak tertentu. Tak cukup di sana, polusi udara juga turut membatasi aktivitas masyarakat. Beberapa warga mengeluhkan tingginya polusi sehingga mereka tak bisa berolahraga di luar ruangan sebagaimana biasanya dan tak bisa membuka jendela untuk sirkulasi udara, bahkan harus menyediakan alat penyaring udara saat menyalakan pendingin udara.

Dilansir dari IQAir, indeks kualitas udara DKI Jakarta sudah menunjukkan angka yang sangat tidak sehat sejak Rabu (15/06/2022), bahkan sempat mencapai angka 205, terburuk pertama di dunia. Sementara itu, kategori kualitas udara tidak sehat menurut versi IQAir berkisar antara 151 hingga 200. Di samping itu, konsentrasi partikulat patter (PM) 2,5 di ibukota pada Selasa (21/7/2022) mencapai 14 kali lipat melampaui standar WHO.

Mengutip dari Air Quality Index, sepanjang tahun 2021, polusi udara di DKI Jakarta diperkirakan menyebabkan 5.300 kematian dan menyebabkan kerugian sebesar $1,4 miliar.

Untuk diketahui, merujuk laman resmi BMKG, PM2.5 adalah polutan udara dalam wujud partikel yang sangat kecil, tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Dengan ukuran tersebut, PM2.5 dapat masuk dengan mudah ke sistem pernapasan sehingga membahayakan sistem pernapasan, sehingga bisa menyebabkan sesak napas, iritasi mata, hingga hidung.

Mengutip dari Reuters, sebuah studi dari Chicago University menyebutkan bahwa 97%  populasi global hidup di daerah dengan polusi udara melebihi standar WHO. Studi tersebut juga menyebutkan jika polusi udara kronis dapat memangkas harapan hidup global lebih dari 2 tahun per orang.

Studi yang terbit pada 14/6/2022 tersebut juga menyebutkan bahwa polusi udara telah diabaikan sebagai masalah kesehatan masyarakat dan dana untuk mengatasi polusi udarah masih jauh dari mencukupi.

“Sekarang pemahaman kita tentang dampak polusi telah meningkat, ada alasan yang lebih kuat bagi pemerintah untuk memprioritaskannya sebagai masalah kebijakan yang mendesak,” kata Christa Hasenkopf, direktur Indeks Kehidupan Kualitas Udara EPIC.

Dalam studi tersebut juga dikatakan penduduk Asia Selatan diperkirakan kehilangan lima tahun kehidupan akibat polusi kabut asap, dengan India menyumbang sekitar 44% dari peningkatan polusi udara dunia sejak 2013. Hal lain yang juga diungkap adalah bahwa tidak ada satupun negara di dunia yang berhasil memenuhi standar 5 mikrogram PM2.5 pada tahun 2021.

Tanggapan Pemerintah

Menaggapi hal tersebut, Gubernur Anies Baswedan menyebut Pemprov DKI sudah melakukan berbagai cara untuk menyehatkan keadaan udara ibukota.

“Apakah Jakarta sudah bersih? Belum. Kita berdekade menyaksikan adanya emisi kendaraan bermotor. Itulah mengapa empat tahun ini kita genjot serius soal transportasi umum, tujuannya untuk mengurangi emisi yang terjadi di kota kita,” kata Anies kepada awak media pasca menjadi inspektur upacara HUT Jakarta di Monas, pada Rabu (22/6/2022).

Lebih jauh, pihak Pemprov juga menindak tegas perusahaan yang terbukti mencemari lingkungan.

“Kami di Jakarta ketika ada perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran dan mencederai kesehatan warga dan merusak lingkungan, maka kami berikan langkah yang sesuai ketentuan dari peringatan dan pemantauan, kalau tidak dilakukan perbaikan, maka kegiatan atau operasinya kami cabut izinnya,” tambahnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI, Ahamd Riza Patria telah mengakui polusi udara di Jakarta masih menjadi pekerjaan rumah. Menangani hal tersebut, Pemprov DKI akan menyiapkan perlengkapan, petugas, hingga program penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Tentang polusi udara, program langit biru, itu memang tidak mudah, perlu waktu. Tidak bisa sepihak, perlu ada pengurangan kendaraan, uji emisi, dan sebagainya, kemudian peningkatan RTH dan sebagainya,” kata Riza di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2022).

Sementara itu, Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar menyebutkan bahwa kualitas udara Jakarta bukan yang terburuk di dunia, menurutnya dengan data analisis yang dimiliki disebutkan bahwa kualitas udara DKI Jakarta ada di peringkat 44 dunia, ia juga menambahkan bahwa ia tidak melakukan pembelaan diri.

“Itu kan, hasil monitoring analisis pakai metode tertentu dari swasta, ada istrumen yang dia pakai, saya tidak bermaksud membela diri tetapi kita lihat dari metode yang biasa dipakai,” kata Siti di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/6/2022).

“Nanti saya kasih data analisisnya. Bahwa pada saat yang sama, DKI bukan yang sekian itu, nomor 44. Jadi sebetulnya buat saya itu hanya ukuran dan indikator. Dan kita paling penting adalah kita lihat metodenya apa sih yang dipakai. Selain itu, apa tindaklanjutnya. Itu yang paling penting,” tambahnya.

Penulis: Misbahul
Editor Substantif: Nauval Pally Taran
Editor Naskah: Arif Rinaldi

Bahan Bacaan:
Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta dan Polusi Udara di Indonesia | IQAir
Air pollution cuts life expectancy by more than two years, study says | Reuters

Tags : alambumiindonesiajakartakemanusiaanlingkunganmanusiapolusisains

The author Redaksi Sahih