close
Opini

Apa yang Terjadi pada Tatanan Dunia Baru?

Sumber Foto: Freepik

Secara keumuman, akhir Desember adalah waktu untuk menantikan harapan tahun baru, terutama di tengah pandemi terburuk dalam satu abad terakhir. Namun, pada saat kekacauan geopolitik berkembang, bulan ini juga merupakan momen bersejarah penting untuk melihat ke belakang.

Kini, sudah tiga dekade sejak Presiden AS George H.W. Bush memproklamirkan “tatanan dunia baru” di tengah janji awal dunia pasca-Perang Dingin. Pada waktu yang hampir bersamaan, Francis Fukuyama menulis buku yang berjudul Akhir Sejarah dan Manusia Terakhir, yang menyatakan bahwa penyebaran demokrasi liberal dan kapitalisme pasar bebas Barat dan gaya hidupnya menandai titik akhir dari evolusi sosiokultural umat manusia dan bentuk akhir pemerintahan manusia.

Namun, visi optimis dari tatanan universal negara-negara liberal, kapitalis, demokratis yang hidup dalam damai dan kepuasan telah digantikan oleh lanskap global yang agak berbeda saat ini. Banyak capaian utama dari era pasca-Perang Dunia Kedua sedang diuji, dengan keamanan Eropa dan Asia, kemajuan pemerintahan yang demokratis, ketahanan pasar terbuka, sentralitas hak-hak individu, dan potensi kemajuan manusia yang menjanjikan. Semuanya sedang berlangsung.

Inflasi yang merajalela ditambah pandemi, dan meningkatnya ketidaksetaraan di banyak negara, serta peningkatan volatilitas global tampaknya akan mungkin menyertai. Tidak mengherankan bahwa banyak pengkritik saat ini menyoroti risiko geopolitik saat ini sebagai tingkat tertinggi dalam satu generasi.

Ini adalah dunia tempat negara-negara otoriter tampak bagi banyak orang berada dalam kekuasaan di tengah kemunduran demokrasi yang meluas, termasuk di AS selama kepresidenan Trump. Ditambah lagi, beberapa negara yang tidak stabil, termasuk Korea Utara, telah memperoleh persenjataan nuklir, hubungan Washington dengan Moskow sedang surut, ancaman berkelanjutan dari terorisme internasional, dan upaya pembangunan bangsa yang dipimpin AS di banyak negara, termasuk Afghanistan, sebagian besar telah gagal. Beratnya tantangan ini dan tantangan lainnya menggarisbawahi berapa banyak harapan dan ekspektasi dunia pasca-Perang Dingin yang telah pupus.

Beberapa kritikus pemerintahan Biden, termasuk pendukung mantan Presiden Donald Trump, melihat gambaran internasional yang rapuh ini sebagai hasil dari kepemimpinan yang lemah di Washington selama setahun terakhir. Namun, 12 bulan bukanlah waktu yang cukup untuk menilai sebuah kepresidenan, dan harapan yang kadang-kadang diletakkan di atas Gedung Putih oleh para pengkritiknya yang paling tajam sering kali tidak realistis.

Yang pasti, sama seperti pada akhir Perang Dingin, AS tetap menjadi negara paling kuat di dunia—tentu saja dalam hal militer. AS masih dapat memproyeksikan dan mengerahkan kekuatan besar terhadap musuh yang mungkin mengancam. Akan tetapi, Washington tidak menggunakan itu, ia menggunakan seni dalam hubungan internasional, kekuatan hegemonik yang sangat kuat. Dan fakta inti ini telah ditunjukkan berulang kali selama periode pasca-Perang Dingin, dari Somalia pada tahun 1993, Irak dan Afghanistan sejak 9/11, hingga yang terbaru di Ukraina dan Suriah.

Trump dan para kritikus pemerintahan Biden juga sering gagal untuk mengakui bahwa kemungkinan 2022 akan menjadi tahun ketegangan politik yang tinggi, lanskap (pandangan) internasional juga mengandung alasan yang signifikan untuk tetap optimis. Kemajuan teknologi, perawatan kesehatan, dan akses manusia yang lebih luas terhadap pengetahuan mungkin belum akan mendorong gelombang baru kemajuan global pascapandemi.

Selain itu, lingkungan global kontemporer juga mengandung banyak peluang untuk stabilitas yang berpotensi lebih besar dalam urusan internasional. Salah satu contohnya adalah kesepakatan perubahan iklim global 2015 yang disepakati di Paris yang disahkan kembali di Glasgow bulan lalu.

Meskipun kesepakatan tersebut jauh dari sempurna, tetap merupakan upaya untuk mengatasi pemanasan global. Itu adalah batu loncatan yang berpotensi sangat penting, dan apa yang sekarang dibutuhkan adalah legislator yang berpengetahuan luas di seluruh spektrum politik untuk membantu memastikan implementasi yang efektif dan meminta pertanggungjawaban pemerintah agar benar-benar terlaksana.

Di tengah lautan peluang dan tantangan pada akhir tahun 2021 ini, pengubah permainan terbesar dalam urusan global sejak Bush dan Fukuyama membuat pernyataan optimis mereka tiga dekade lalu adalah kebangkitan China. Bangsa itu tidak hanya melampaui AS sebagai ekonomi terbesar di dunia dalam hal paritas pembelian, tetapi juga menjadi pengaruh besar dalam hubungan internasional.

Kebangkitan China berpotensi menjadi sumber ketegangan yang berkembang dengan Washington, seperti sekarang, atau mungkin saja berkembang menjadi kemitraan yang lebih bermanfaat. Tumbuhnya persaingan bilateral sangat mungkin terjadi jika kekuatan ekonomi dan militer Beijing terus tumbuh pesat, dan negara itu menganut sikap kebijakan luar negeri yang makin tegas terhadap tetangganya di Asia. Namun, masih ada peluang luar untuk membangun hubungan G2 (China dan Amerika Serika) yang lebih kooperatif dari kolaboratif dalam isu-isu yang lebih santai, seperti perubahan iklim.

Ini adalah ketidakpastian atas jalur hubungan AS-China yang menjadi sandaran sebagian besar masa depan urusan internasional dalam tiga dekade mendatang. Karena, seperti yang telah ditunjukkan oleh pandemi, kompleksitas pengelolaan urusan global mungkin makin bergantung pada kerja sama negara besar dengan negara lain, baik pesaing maupun sekutu, dan hubungan antara Beijing dan Washington akan menjadi pusat dari hal ini.

Penulis: Andrew Hammond
Ia adalah Associate di LSE IDEAS di London School of Economics.

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Sumber: Arab News

Tags : Amerika Serikatduniamasa depan manusia

The author Redaksi Sahih