close

Feature

Microgreen: Mudahnya Bertani dan Wajah Baru Urban Farming

Sumber Foto: Pixabay

Sebagai sebuah kebutuhan hidup yang asasi, pertanian akan terus berevolusi menemukan cara terbaiknya untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. Jika sebelumnya hidroponik menjadi salah satu alternatif pertanian di lahan sempit, kini microgreen mulai dilirik sebagai model pertanian yang lebih sederhana, praktis, dan sarat dengan nilai alami dan organik.

Pasalnya, tidak membutuhkan lahan yang besar untuk memulai budidaya microgreen. Ia bahkan bisa tumbuh di sebuah tray [nampan] dengan atau tanpa media tanam sekalipun. Microgreen juga dapat tumbuh tanpa adanya sinar matahari. Bagaimana microgreen dapat menjadi model baru dari pertanian yang dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga, dapat kita lihat dari berbagai sisi, mulai tata cara budi daya yang sangat praktis, masa panen yang cukup singkat yang hanya butuh tujuh sampai empat belas hari (tergantung jenis tanaman yang ditanam), hingga organik.

Merebaknya tren microgreen juga dapat memenuhi kebutuhan sayuran harian kita, yang pada data tahun 2016 konsumsi sayuran per hari per kapita di Indonesia hanya 107 gram dari nominal standar yang direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi, yaitu sejumlah 400 gram per kapita per hari. Artinya, kita bahkan belum memenuhi setengah dari standar gizi harian.

Apa itu Microgreen?

Microgreen adalah tanaman kecil dengan visual yang lebih menarik, memiliki durasi panen singkat dan memiliki nutrisi yang lebih lengkap dibandingkan sayuran dewasa. Microgreen ini ditemukan pada tahun 1980 di San Francisco, Amerika Serikat. Artinya, ia lebih muda ratusan tahun dibandingkan pendahulunya, yaitu hidroponik yang sudah ditemukan sejak tahun 1627.

Meski memiliki ukuran yang kecil, microgreen bukanlah kecambah. Ada banyak perbedaan antara keduanya, seperti masa panen microgreen yang sedikit lebih panjang, memiliki variasi warna yang lebih beragam, sudah memiliki klorofil, memiliki kotiledon yang mekar, bisa dibudidayakan dengan pertanian organik, dan membutuhkan cahaya agar tumbuh.

Adapun dari segi kandungan mineral dan vitamin, microgreen lebih unggul 2–10 kali lipat jika dibandingkan sayuran dewasa. Di samping itu, budi daya microgreen dapat dipastikan 100% organik. Hal ini karena masa panennya cukup singkat sehingga tidak membutuhkan pupuk tambahan untuk bertumbuh. Selain pada aspek kesehatan, nilai tambah dari model pertanian ini juga terletak pada luwesnya ia terhadap lingkungan sebab tidak memerlukan lahan atau media yang luas, hemat air, serta dapat dikondisikan tanpa listrik. Demikian sebagaimana dilansir dari Microgreens Workshop yang diadakan oleh Sekolah Inovasi Pangan bersama Homey Microgreens.

Microgreen di Indonesia

Dilansir dari ganitheyong.com, microgreen yang sudah populer ditanam di Indonesia, antara lain adalah pea shoots, red radish, wheatgrass, sunflower, alfalfa, dan mung bean. Sementara itu, media tanam yang dapat dipakai pada tray microgreen cukup beragam, kita bisa mengondisikannya dengan material yang mudah diperoleh di lokasi tempat kita tinggal. Microgreen dapat ditanam di tanah kompos, cocopeat, cocosheet, rockwool, hydroton, dan pasir malang. Bahkan, beberapa jenis benih dapat pula tumbuh tanpa media-media tanam tersebut.

Di Aceh, budi daya microgreen juga sudah mulai dicoba. Menurut keterangan yang penulis peroleh, ada tiga lembaga yang sudah mencobanya, yaitu Prodi Agroindustri Universitas Syiah Kuala (USK), KamiKita, dan Genki Organic. Hanya saja, sebagaimana keterangan dari Henny Cahyanti, Project Coordinator Yayasan KamiKita, pasar microgreen di Aceh belum terbentuk. Harganya yang lebih mahal daripada sayuran pada umumnya masih menjadi alasan kuat banyak kalangan tidak melirik microgreen. Di samping itu, wawasan mengenai microgreen itu sendiri belum mapan.

Meski microgreen di Aceh belum layak secara komersial, menjadikannya sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga merupakan sebuah langkah yang patut dilakukan. Hal ini mengingat kandungan gizi pada microgreen cukup tinggi, cara membudidayakannya juga sangat mudah, tidak membutuhkan lahan, serta masa panen yang terbilang singkat.


Penulis: M. Haris Syahputra
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Tags : ekonomimicrogreenpertaniansayursorotan

The author Redaksi Sahih