close
AkidahIslam

Sikap Unik Islam dalam Menutup Jalan Menuju Politeisme

Sumber Foto Ilustrasi: Pixabay

Islam adalah agama yang sempurna dan terakhir yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada manusia:

Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu (Surat Al-Ma’idah, ayat 3)

Islam telah datang untuk menghapus, menyampingkan, dan menutupi setiap agama dan jalan lainnya:

Sesungguhnya, agama [satu-satunya yang benar] di sisi Allah [yang diturunkan-Nya kepada semua nabi] adalah Islam [⁠tunduk patuh hanya kepada Allah ]. (Surat Ali ‘Imran, ayat 19)

Salah satu kelemahan manusia yang paling mendasar adalah kecenderungannya yang terus-menerus untuk jatuh ke dalam berbagai bentuk kemusyrikan (Syirik).

Di bawah ini, kami akan merinci sejumlah hukum khusus dalam Islam yang dengan tegas menutup pintu dan jalan menuju kemusyrikan.

  1. Islam telah menjadikan sujud (sajdah) sebagai tanda ibadah yang khusus. Ia mengharamkan sujud untuk siapa pun atau apa pun selain Allah Ta’ala.
  2. Islam telah melarang meminta kebutuhan seseorang dari siapa pun atau apa pun selain Allah Ta’ala. Seseorang tidak boleh menginginkan kesembuhan dari orang lain; memiliki harapan bahwa makhluk lain akan memenuhi harapan dan aspirasinya; atau mengambil nama makhluk lain untuk mencari kebaikan dan berkah.
  3. Islam dengan tegas melarang mengatakan atau meyakini bahwa makhluk atau benda apapun adalah putra atau putri Allah Ta’ala.
  4. Islam melarang pengambilan ulama, kepribadian saleh, penyembah atau pertapa sebagai semacam makhluk ilahi atau dewa. Artinya, dilarang meyakini bahwa seseorang dapat membuat sesuatu menjadi halal atau haram. Para ulama yang menjelaskan nash-nash Al-Qur’an dan Sunah yang mulia, dalam hal ini hanya merinci perintah-perintah Allah Ta’ala— mereka sendiri tidak mengizinkan atau melarang sesuatu berdasarkan penilaian pribadi mereka.
  5. Islam melarang menyembelih hewan atas nama selain Allah Ta’ala terlepas dari apakah ini dilakukan demi memperoleh kedekatan dengan makhluk itu atau hanya sekadar mengambil nama makhluk lain selain Allah Ta’ala ketika menyembelih hewan.
  6. Membebaskan hewan (seperti kambing, sapi, dll.) atas nama berhala atau orang saleh dilarang mutlak dalam Islam.
  7. Dilarang memercayai bahwa akan ada kerugian yang akan menimpa seseorang jika mereka mengucapkan sumpah palsu atas nama seseorang atau makhluk.
  8. Dilarang berziarah ke makam orang dan merasa tinggal di sana adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
  9. Dilarang memberi nama anak-anak dengan nama seperti Abdul Uzza (budak Uzza), Abdus Syams (budak matahari), dll.
  10. Dilarang menyebut guru atau seseorang dengan kata-kata seperti “Rabb

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita semua dari segala bentuk kemusyrikan, dan menjaga kita tetap teguh pada Islam sampai napas terakhir kita.


Referensi:
Tafsīr Hidāyat-ul-Qur’ān, MuftI Sa’id Aḥmad Palanpuri rahimahullah, vol.4 pp.226-227, Maktabah Ghaznawi, Karachi, 2019

Penulis: Mufti Abdullah Moolla

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Arif Rinaldi

Sumber: Muslim Skeptic

Tags : agamaakidahislamtauhid

The author Redaksi Sahih