close
Sumber Foto Ilustrasi: Pixabay

Model perbudakan konvensioal memang sudah lama hapus dari dunia. Namun begitu, anasir perbudakan masih belum seutuhnya lenyap. Kenyataannya, masih ada puluhan juta orang yang bekerja secara paksa sampai saat ini. Tidak sedikit di antaranya adalah anak-anak di bawah umur.

Perbudakan gaya baru ini kerap disebut dengan “perbudakan modern”. Istilah ini, merujuk pada berbagai macam praktik, seperti kerja paksa, pekerja terikat utang, hingga perdagangan manusia.

Dilaporkan oleh the conversation, perbudakan modern ada dalam rantai pasok berbagai barang dan jasa yang kita gunakan sehari-hari. ChatGPT yang cukup fenomenal belakangan ini, misalnya, dikembangkan menggunakan jasa kontraktor dari Kenya yang hanya dibayar antara CA$1,32 (Rp14.560) hingga CA$2 per jam.

Praktik yang serupa juga kerap ditemukan di rantai pasok fesyen mode cepat (fast fashion). Di industri ini, pekerja kesulitan menemukan pekerjaan yang memberikan upah yang layak, sehingga ia terpaksa membanting tulang untuk industri yang eksploitatif.

Sementara itu, sepertiga dari suplai kobalt global—material penting dalam produksi kendaraan listrik—juga berasal dari tambang-tambang kecil dengan situasi kerja yang berbahaya, serta sering kali terjadi pelanggaran terhadap pekerja.

Adapun di Cina, anak-anak usia sekolah turut dipekerjakan semalaman di pabrik milik Foxconn, pemasok untuk Amazon, demi memenuhi target produksi gawai Alexa.

Perbudakan di Asia Tenggara

Di Asia Tenggara sendiri, perbudakan modern marak terjadi di wilayah Mekong, yang dipicu dengan pesatnya pertumbuhan perusahaaan penipuan online dan kasino ilegal.

Sebagai zona konflik dengan supremasi hukum yang rentan, Myanmar telah mengondisikan tanahnya sebagai lahan empuk bagi para penjahat untuk membangun “kompleks budak” yang nyaman. Di mana korban perbudakan (perdagangan manusia) ini ditahan, dianiaya, disiksa, bahkan tak jarang juga dibunuh di sana.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kamboja menjadi negara tujuan utama perdagangan manusia di Asia Tenggara. Para pedagang, banyak yang terhubung dengan geng kriminal yang terorganisir. Mereka menjadikan penipuan online sebagai model bisnis yang menguntungkan dan menargetkan warga negara asing melalui berbagai situs dan aplikasi media sosial dengan tawaran pekerjaan bergaji tinggi, lengkap dengan akomodasi.

Orang-orang yang tertipu oleh iklan palsu tersebut selanjutnya menempatkan diri mereka dalam perbudakan modern yang dipastikan sulit terlepas dari jeratnya.

DW melaporkan, Para korban yang berasal lebih dari 20 negara telah dijebak dalam operasi ini dengan janji mendapatkan pekerjaan bagus. Di bawah todongan senjata, mereka dipaksa berpartisipasi dalam skema kejahatan ganda dengan menipu korban lainnya. Jika menolak, mereka akan menghadapi siksaan fisik dan psikologis yang kejam.

“Sangat tidak mungkin untuk melarikan diri dari kompleks tersebut. Setiap kali Anda memasuki sebuah kompleks, mereka membeli Anda sebagai budak. Jadi, mereka memastikan Anda akan tinggal dan bekerja untuk mereka,” kata MD Abdus Salam, korban perdagangan manusia.

Sarang Perbudakan Dunia

Betapapun kita membenci perbudakan, jutaan manusia masih hidup dalam perbudakan modern saat ini. Bahkan, sebagian negara turut mendulang untung dari praktik tidak manusiawi ini. Merujuk pada Indeks Perbudakan Global edisi 2018 sebagaimana dilansir oleh DW, berikut sepuluh negara yang merupakan sarang perbudakan dunia,

  1. India

Sekitar 270 juta penduduk India masih hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut Indeks Perbudakan Global, negeri raksasa di Asia Selatan itu saat ini masih mencatatkan jumlah pekerja paksa sebanyak 18.354.700 orang. Sebagian besar bekerja di sektor informal. Sementara sisanya bekerja di prostitusi atau berprofesi sebagai pengemis.

  1. China

Maraknya migrasi internal kaum buruh menjadikan Cina lahan empuk untuk perdagangan manusia. Pemerintah di Beijing sendiri mengakui bahwa tak kurang dari 1,5 juta anak-anak dipaksa mengemis, di mana kebanyakannya diculik. Saat ini lebih dari 70 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan di sana. Menurut Indeks Perbudakan Global, Cina masih memiliki sekitar 3.864.000 orang budak.

  1. Pakistan

Sebanyak 3.186.000 penduduk Pakistan bekerja sebagai budak di pabrik-pabrik dan lokalisasi. Angka perbudakan tertinggi tercatat di dua provinsi, yaitu Sindh dan Punjab. Sejumlah kasus bahkan mengindikasikan orang tua di sejumlah wilayah di Pakistan terbiasa menjual putrinya sebagai pembantu rumah tangga, pelacur, nikah paksa atau sebagai bayaran untuk menyelesaikan perseteruan yang terjadi antarsuku.

  1. Korea Utara

Berbeda dengan negara lain, budak di Korea Utara yang berkisar 2.640.000 orang tidak bekerja di sektor swasta, melainkan untuk pemerintah itu sendiri. Eksploitasi buruh oleh pemerintah Pyongyang sudah lama menjadi masalah. Saat ini sebanyak 50.000 buruh Korut dikirim ke luar negeri oleh pemerintah untuk bekerja dengan upah minim. Program tersebut mendatangkan lebih dari 2 miliar Dollar AS ke kas negara.

  1. Nigeria

Tidak sedikit perempuan Nigeria yang dijual ke Eropa untuk bekerja sebagai pelacur. Namun sebagian besar buruh paksa mendarat di sektor informal di dalam negeri. Tercatat sebanyak 1.386.000 penduduk Nigeria bekerja di bawah paksaan.

  1. Iran

Ada sebanyak 1.289.000 populasi di Iran terjebak dalam perbudakan. Perdagangan perempuan dan gadis muda dari Iran untuk perbudakan modern, khususnya ke negara-negara Arab di Teluk Persia, merupakan praktik umum di sana. Misogini dan korupsi yang merajalela menjadi faktor utama pendorong kenaikan angka perbudakan di Iran.

  1. Indonesia

Menurut catatan Walk Free Foundation, kebanyakan buruh paksa di Indonesia bekerja di sektor perikanan dan konstruksi. Eksploitasi juga dialami tenaga kerja Indonesia di luar negeri seperti di Arab Saudi atau Malaysia. Secara umum Indonesia berada di urutan kesepuluh dalam daftar negara sarang perbudakan  dengan jumlah 1220.000 buruh paksa.

  1. Republik Demokratik Kongo

Serupa dengan negara-negara Afrika Sub Sahara lain, Republik Demokratik Kongo mencatat angka tertinggi dalam kasus perbudakan Anak. Sebagian besar dari mereka bekerja di sektor informal, prostitusi atau bahkan dijadikan tentara. Jumlah budak di RD Kongo mencapai 1.045.000 orang.

  1. Rusia

Pasar tenaga kerja Rusia yang booming sejak beberapa tahun silam banyak menyerap tenaga kerja dari berbagai negara bekas Uni Soviet seperti Ukraina, Uzbekistan, Azerbaijan atau bahkan Korea Utara. Saat ini, sebanyak 794.000 buruh paksa bekerja di Rusia. Celakanya, langkah pemerintah yang kerap mendiskriminasi buruh dari etnis minoritas justru membantu industri perbudakan.

  1. Filipina

784.000 populasi di Filipina berkerja dalam perbudakan. Pada tahun 2018, Departemen Kehakiman Filipina menerima sebanyak 600.000 gambar dan video anak-anak Filipina yang menjadi korban perbudakan seks hingga pelecehan.

 

Pewarta: M. Haris Syahputra
Editor: Nauval Pally Taran

Tags : industrikemanusiaankorporasimanusiaperbudakan

The author Redaksi Sahih