close
Kabar Internasional

Pencapaian Penting dalam Pakta Iklim Glasgow

Foto: Pixabay

SAHIH.CO, GLASGOW – Sekitar 200 negara setuju untuk mengadopsi Pakta Iklim Glasgow pada Sabtu, 13 November 2021 setelah lebih dari dua minggu negosiasi yang intens. Tuan rumah dialog, Inggris, mengatakan kesepakatan itu akan menjaga harapan internasional tetap hidup untuk mencegah dampak terburuk dari pemanasan global.

Meningkatkan Harapan

Perjanjian tersebut mengakui bahwa komitmen yang dibuat oleh negara-negara sejauh ini untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang memanaskan planet tidak cukup untuk mencegah pemanasan planet melebihi 1,5 derajat Celsius di atas suhu praindustri. Untuk mengatasi hal ini, ia meminta pemerintah untuk memperkuat target tersebut pada akhir tahun depan, bukan setiap lima tahun seperti yang disyaratkan sebelumnya.

Kegagalan untuk menetapkan dan memenuhi tujuan pengurangan emisi yang lebih tinggi akan memiliki konsekuensi besar. Para ilmuwan mengatakan bahwa melampaui kenaikan 1,5 derajat Celsius akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang ekstrem dan bencana, termasuk kekeringan yang melumpuhkan, badai dahsyat, dan kebakaran hutan yang jauh lebih buruk daripada yang sudah diderita dunia.
“Saya pikir hari ini kita dapat mengatakan dengan kredibilitas bahwa kita telah menjaga 1,5 (derajat Celcius) dalam jangkauan,” kata Alok Sharma, Presiden KTT COP26. “Tapi denyut nadinya lemah, dan kami hanya akan bertahan jika kami menepati janji kami.”

Target Bahan Bakar Fosil

Pakta tersebut untuk pertama kalinya mencakup permintaan agar mengurangi ketergantungan mereka pada batu bara dan mengurangi subsidi bahan bakar fosil. Langkah ini yang akan menargetkan sumber energi yang menurut para ilmuwan adalah pendorong utama perubahan iklim buatan manusia.

Namun, permintaan ini tampaknya kontroversial. Tepat sebelum kesepakatan Glasgow diadopsi, India meminta untuk menghentikan secara bertahap, alih-alih menghapus penggunaan batu bara yang terus dibutuhkan. Perubahan sedikit kata itu memicu banyak kecemasan di aula pleno, tetapi delegasi menyetujui permintaan itu untuk mempertahankan kesepakatan.

Kata-kata kesepakatan ada pada frasa subsidi yang tidak efisien, dan mempertahankan ungkapan penghapusan bertahap. Akan tetapi, masih ada pertanyaan tentang bagaimana mendefinisikan terus dibutuhkan dan tidak efisien.

Pembiayaan terhadap Negara Miskin dan Rentan

Kesepakatan itu membuat kemajuan dalam hal tuntutan negara-negara miskin dan rentan agar negara-negara kaya—yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi—memberikan bantuan dana. Kesepakatan tersebut, misalnya, “Mendesak pihak negara maju untuk setidaknya menggandakan penyediaan pendanaan iklim kolektif mereka untuk adaptasi ke pihak negara berkembang dari level 2019 pada level 2025.”

Kesepakatan itu juga, untuk pertama kalinya, menyebut kerugian dan kerusakan di bagian sampul perjanjian. Kerugian dan kerusakan mengacu pada biaya yang telah dihadapi beberapa negara karena perubahan iklim, dan negara-negara ini telah bertahun-tahun menginginkan pembayaran untuk membantu mengatasinya.

Namun, berdasarkan konsensus tersebut, negara-negara maju pada dasarnya memulai persetujuan untuk melanjutkan diskusi tentang topik tersebut. Kita akan melihat ke mana arahnya.

Aturan untuk Pasar Karbon Global

Negosiator juga menutup kesepakatan aturan untuk pasar karbon. Hal ini berpotensi membuka triliunan dolar untuk melindungi hutan, membangun fasilitas energi terbarukan, dan proyek lain untuk memerangi perubahan iklim.

Perusahaan dan negara-negara dengan tutupan hutan yang luas telah mendorong kesepakatan yang kuat di pasar karbon yang dipimpin pemerintah di Glasgow. Dengan harapan, melegitimasi pasar karbon sukarela global yang tumbuh cepat.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, beberapa langkah akan diterapkan untuk memastikan kredit tidak dihitung dua kali di bawah target emisi nasional, tetapi perdagangan bilateral antarnegara tidak akan dikenakan pajak untuk membantu mendanai adaptasi iklim. Hal tersebut telah lama menjadi permintaan utama dari negara-negara kurang berkembang.

Negosiator juga mencapai kompromi yang menetapkan batas waktu, dengan kredit yang dikeluarkan sebelum tahun 2013 tidak diteruskan. Itu untuk memastikan terlalu banyak kredit lama tidak membanjiri pasar dan mendorong pembelian alih-alih pengurangan emisi baru.

Kesepatakan Sampingan

Ada sejumlah kesepakatan sampingan yang juga patut diperhatikan. Amerika Serikat dan Uni Eropa memelopori inisiatif pemotongan metana global dan sekitar 100 negara telah berjanji untuk mengurangi emisi metana sebesar 30% dari tingkat tahun 2020 pada tahun 2030.
Amerika Serikat dan China, dua penghasil karbon terbesar di dunia, juga mengumumkan deklarasi bersama untuk bekerja sama dalam langkah-langkah perubahan iklim. Konsensus ini yang meyakinkan para pengamat tentang niat Beijing untuk mempercepat upayanya memerangi pemanasan global setelah periode tenang yang lama.

Perusahaan dan investor juga membuat banyak janji sukarela. Mereka berkomitmen akan menghentikan mobil bertenaga bensin, menghilangkan karbon dari perjalanan udara, melindungi hutan, dan memastikan investasi yang lebih berkelanjutan.

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Sumber: Reuters

 

Tags : bumiCOP26Glasgowiklimlingkungan

The author Redaksi Sahih

Leave a Response