close
BeritaSains

Para Ilmuwan Mengatakan Inti Dalam Bumi Telah Mengubah Rotasinya

Sumber Foto Ilustrasi: PIxabay

SAHIH.CO, LONDON – Inti bumi mungkin telah berhenti berputar, atau bahkan sekarang berputar ke arah berlawanan, menurut sebuah studi baru.

Inti planet kita terdiri dari lapisan luar logam cair, dan inti dalam dari logam padat yang berukuran sekitar 70 persen ukuran bulan.

Secara umum diyakini bahwa inti bumi berputar berlawanan arah jarum jam jika dilihat dari Kutub Utara, seperti bagian planet bumi lainnya.

Tetapi sebuah penelitian yang menganalisis data gelombang seismik selama 60 tahun terakhir oleh para peneliti di Universitas Peking di Cina menyimpulkan bahwa rotasi inti berhenti sekitar tahun 2009, dan kemudian dimulai kembali ke arah yang berlawanan.

“Kami pikir intinya, relatif terhadap permukaan Bumi, berputar ke satu arah dan kemudian ke arah lain, seperti ayunan,” kata Xiaodong Song dan Yi Yang, penulis studi tersebut, kepada AFP.

Siklus lengkap (dalam satu arah dan kemudian ke arah lain) dari ayunan ini adalah sekitar 70 tahun, tambah mereka.

Menurut para peneliti, perubahan rotasi terakhir sebelum 2009 terjadi pada awal 1970-an, dan rotasi berikutnya akan terjadi pada pertengahan 2040-an.

Masih banyak perdebatan tentang sifat inti bumi, karena sangat sulit mengumpulkan informasi tentangnya.

Bagian ujung inti luar bertemu dengan mantel bumi pada kedalaman sekitar 2.890 km, dan inti luar ini diyakini terbuat dari besi cair dan nikel.

Inti dalam dimulai sekitar 5.000 km di bawah permukaan planet, dan diperkirakan terbuat dari besi dan nikel padat, karena tekanan ekstrem yang memaksa atom-atom logam untuk menyatu.

Itu berada di dalam inti luar yang cair, dan diyakini telah berputar ke arah yang sama dengan bagian bumi lainnya, berdasarkan analisis gelombang seismik yang disebabkan oleh gempa bumi.

Xiaodong Song dan Yi Yang mempelajari gelombang seismik ini, menemukan terkait “pembalikan bertahap dari inti dalam sebagai bagian dari osilasi sekitar tujuh dekade”.

Makalah mereka diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience.

“Ini adalah studi yang dilakukan dengan sangat hati-hati oleh para ilmuwan hebat yang menggunakan banyak data,” kata John Vidale, seismolog di University of Southern California yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Namun, dia menambahkan bahwa “tidak ada model yang benar-benar menjelaskan semua data yang tersedia dengan baik”.

Vidale menerbitkan sebuah penelitian tahun lalu yang menunjukkan bahwa inti dalam berosilasi jauh lebih cepat, berubah arah setiap enam tahun, menurut data seismik dari dua ledakan nuklir yang terjadi pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Ahli geofisika lainnya, Hrvoje Tkalcic di Australian National University, percaya siklus inti dalam adalah sekitar 20 sampai 30 tahun, bukan 70 tahun seperti yang diusulkan oleh studi minggu ini di Nature Geoscience.

Para peneliti Universitas Peking mengeklaim dalam makalah mereka bahwa osilasi ini “bertepatan dengan perubahan beberapa pengamatan geofisika lainnya,” seperti panjang hari, dan perubahan medan magnet bumi.

“Pengamatan ini memberikan bukti interaksi dinamis antara lapisan bumi, dari interior terdalam ke permukaan, berpotensi karena kopling gravitasi dan pertukaran momentum sudut dari inti dan mantel ke permukaan,” tulis mereka.

“Kami berharap penelitian kami memotivasi para peneliti untuk merancang dan menguji model yang memperlakukan bumi sebagai sistem dinamis yang terintegrasi,” jelas mereka. —Euronews

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Arif Rinaldi

Sumber: Saudi Gazette

Tags : bumiilmu pengetahuanilmuwansains

The author Redaksi Sahih