close
Kabar Internasional

Survei Global: 75 Persen Orang Ingin Plastik Sekali Pakai Dilarang

Sumber Foto: Pixabay

SAHIH.CO, LONDON – Tiga dari empat orang di seluruh dunia ingin plastik sekali pakai dilarang sesegera mungkin. Kesimpulan ini berdasarkan jajak pendapat yang dirilis pada Selasa, ketika anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa bersiap memulai pembicaraan tentang perjanjian global untuk mengendalikan melonjaknya polusi plastik.

Persentase orang yang menyerukan larangan naik dari 71 persen sejak 2019. Selain itu, mereka yang mengatakan mereka menyukai produk dengan kemasan plastik yang lebih sedikit naik menjadi 82 persen dari 75 persen, menurut jajak pendapat IPSOS terhadap lebih dari 20.000 orang di 28 negara.

Para aktivis mengatakan hasil tersebut mengirimkan pesan yang jelas kepada pertemuan antarpemerintah di Nairobi bulan ini untuk terus maju dengan perjanjian ambisius guna mengatasi limbah plastik. Perjanjian itu yang disebut-sebut sebagai pakta lingkungan paling penting sejak Perjanjian Paris tentang perubahan iklim pada tahun 2015.

“Orang-orang di seluruh dunia telah memperjelas pandangan mereka,” kata Marco Lambertini, Direktur Jenderal WWF International. “Tanggung jawab dan peluang sekarang ada pada para pemerintah untuk mengadopsi perjanjian plastik global … sehingga kita dapat menghilangkan polusi plastik.”

Hampir sembilan puluh persen dari mereka yang disurvei mengatakan mereka mendukung perjanjian. Akan tetapi, masih harus dilihat apakah kesepakatan semacam itu akan fokus pada pengumpulan dan daur ulang sampah atau mengambil tindakan yang lebih radikal, seperti membatasi produksi dan penggunaan plastik sekali pakai.

Reuters pekan lalu mengungkapkan bahwa kelompok industri minyak dan kimia besar sedang menyusun strategi untuk membujuk para peserta konferensi. Mereka menginginkan agar peserta konferensi menolak kesepakatan apa pun yang akan membatasi produksi plastik, yang terbuat dari minyak dan gas dan sumber utama pendapatan mereka.

Jika Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak dapat menyepakati kesepakatan untuk mengerem polusi plastik, akan ada kerusakan ekologis yang meluas selama beberapa dekade mendatang. Kerusakan tersebut akan menempatkan beberapa spesies laut dalam risiko kepunahan dan menghancurkan ekosistem sensitif, seperti terumbu karang dan bakau, menurut sebuah Studi WWF dirilis bulan ini.

Kemungkinan akan memakan waktu setidaknya dua tahun untuk menyelesaikan setiap perjanjian. Namun, apa pun yang disepakati pada konferensi Nairobi, dari 28 Februari hingga 2 Maret, akan menentukan elemen kunci dari kesepakatan apa pun.

Dukungan terbesar untuk larangan plastik sekali pakai dalam jajak pendapat datang dari negara-negara, seperti Kolombia, Meksiko, dan India, negara-negara berkembang di ujung tajam krisis sampah. Jajak pendapat IPSOS juga menunjukkan bahwa 85 persen responden secara global ingin produsen dan pengecer bertanggung jawab untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang kemasan plastik, naik dari 80 persen sebelumnya.

Penerjemah: Muhajir Julizar
Editor: Teuku Zulman Sangga Buana

Sumber: Arab News

Tags : alamlingkunganmanusiaplastik

The author Redaksi Sahih